Para pengemudi truk yang bertemu Jokowi di Istana berasal dari Serikat Pengemudi Truk Nusantara (SPTN), Persatuan Sopir Truk Indonesia (PSTI), Pick-up Indonesia, serta Solidaritas driver (Silinder).
Mereka memberi tahu titik-titik rawan mulai dari lintas Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan kepada Jokowi dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi serta Wakapolri Komisaris Jenderal Syafruddin di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lewat warung saja harus bayar, kalau tidak kaca pecah, ranjau, ban disobek. Itu siang bolong pak," kata seorang pengemudi.
"Kalau seperti itu suka diminta bayar berapa?" tanya Presiden kepada pengemudi.
"Variasi. Kalau ingatnya Rp200 ribu ya Rp200 ribu. Kalau Rp2 juta ya Rp2 juta," jawab mereka.
Jokowi pun langsung menggelengkan kepala ketika mendengar hal itu. Belum lagi selesai, para pengemudi menceritakan kisah cap-cap pengamanan yang diberikan preman kepada mereka.
Awalnya, Presiden menuturkan tak mengetahui mengenai cap pengawalan. Pengemudi memberi tahu cap itu kadang ditempel di badan truk atau berupa cat yang dioleskan di ban mobil mereka.
"Saya kaget ternyata banyak sekali cap itu. Saya enggak tahu. Tapi ini sudah didengar langsung Pak Wakapolri. Nanti segera kami tindak lanjuti sehingga saudara semua bisa lancar di jalan, aman dan nyaman," tutur Jokowi.
Para pengemudi truk yang hadir di Istana terdiri dari Serikat Pengemudi Truk Nusantara (SPTN), Persatuan Sopir Truk Indonesia (PSTI), Pick-up Indonesia, serta Solidaritas driver (Silinder). (wis/sur)