Para peserta yang menamai diri Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis ini juga mengisi aksi dengan doa bersama dan orasi kebangsaan. Tujuannya satu, mendesak Amerika untuk membatalkan kebijakan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
Yon Machmudi, Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, menilai aksi yang dilakukan para ormas Islam memang tak bisa berdampak langsung dengan kebijakan Trump.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bisa digunakan sebagai kekuatan moral dan pijakan pemerintah untuk melakukan lobi-lobi di negara internasional," kata Machmudi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (11/5).
Aksi-aksi ini, lanjut Machmudi, bisa jadi peringatan bagi Pemerintah Amerika Serikat dan negara lain yang mendukung Israel. Sebab, aksi serupa bukan hanya dilakukan di Indonesia, melainkan di banyak negara.
Machmudi menambahkan bahwa pemerintah Indonesia cukup intens melakukan komunikasi politik kepada negara-negara eropa agar tak mendukung kebijakan Trump itu.
"Menlu intensif menghubungi anggota OKI dan Uni Eropa untuk kemudian tetap komitemn harus menentang kebijakan Amerika," tegas dia.
Tekanan Indonesia untuk Dunia
Ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Muhammadiyah Muhyiddin Junaidi bercerita tentang kunjungannya ke Palestina, Januari. Saat itu ia hadir untuk melakukan pertemuan internasional.
Namun, yang terjadi adalah Muhyiddin mengaku diadang oleh tentara Israel. Setelah melihat kejadian ini, Muhyiddin menilai bisa jadi kebijakan Trump nantinya akan menimbulkan gerakan-gerakan radikal.
Aksi-aksi seperti aksi 115 bisa menjadi modal bagi Presiden Jokowi untuk maju di kancah internasional dan melobi-lobi negara lain untuk membela Palestina. (CNN Indonesia/Setyo Aji Harjanto). |
"Karena ini sangat berbahaya. Pada akhirnya dia akan menciptakan kelompok radikal dan ekstrimis baru yang akan melakukan instabilitas di kawasan tersebut," kata Muhyiddin kepada CNNIndonesia.
Ia memandang Aksi 115 itu sebagai tekanan untuk dunia dan menjadi pijakan bagi Indonesia untuk menolak kebijakan tersebut. Tak menutup kemungkinan, aksi itu akan terus datang sampai Trump mengubah kebijaknnya.
"Selama PBB dan mereka [AS] tidak mendengarkan suara umat Islam, maka semakin banyak demo dan gelombang dukungan terus," ujarnya.
"Indonesia tidak akan mengubah sikapnya tentang negara Palestina, sampai negara Palestina merdeka," tandas dia. (osc/arh)
Aksi-aksi seperti aksi 115 bisa menjadi modal bagi Presiden Jokowi untuk maju di kancah internasional dan melobi-lobi negara lain untuk membela Palestina. (CNN Indonesia/Setyo Aji Harjanto).