Moeldoko mengatakan kepolisian dan TNI sudah menaruh perhatian lebih terhadap gerak-gerik yang berpotensi menjadi tindakan teror.
Sebelumnya, sempat terjadi aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Yang terbaru, bom kembali meledak di Mapolrestabes Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya Kapolri dan Panglima TNI sudah mewaspadai itu semuanya karena sudah beredar bahwa mereka akan memberikan tekanan kepada pos-pos polisi dan TNI," ucap Moeldoko di Menara 165, Jakarta, Senin (14/5).
"Sel-sel (teroris) itu telah diketahui sepenuhnya oleh kepolisian," lanjutnya.
Menurut Moeldoko, hal itu menyulitkan aparat keamanan untuk mencegah aksi terorisme.
"Persoalannya menjadi tidak mudah karena undang-undang terorisme ini belum diberlakukan. Kalau sudah diberlakukan, maka kalau sudah ada indikasi, langsung bisa ditangkap," ujar Moeldoko.
"Langkah preventif itu menjadi tidak bisa berjalan dengan baik. Karena apa, karena modus mereka yang dijalankan itulah, itu sehingga seolah-olah, kok kita enggak waspadai, enggak," lanjutnya.
Meski demikian, Moeldoko mengatakan aparat keamanan yakni kepolisian dan TNI akan terus berkoordinasi dalam menangani situasi yang terjadi belakangan ini. Hal itu akan tetap dilakukan secara intensif meski RUU Terorisme belum diberlakukan.
"Tetapi dalam konteks ini, ada sebuah pertimbangan yang dipikirkan oleh kepolisian dan TNI bersama sama bagaimana menyelesaikan sel-sel itu agar mereka jangan sampai (sudah) terjadi, baru kita bertindak," ucapnya. (chs/asa)