Slamet mengatakan hal tersebut menanggapi aksi teror yang terjadi di Surabaya dan Pekanbaru, Riau.
"Yang jelas kami mengkhawatirkan kalau ini teror dibiarkan akan menjadi Islamophobia. Ini mengkhawatirkan," ujar Slamet saat ditemui CNNIndonesia.com di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mencontohkan saat seorang santri diminta polisi untuk membuka kardus yang dibawanya di salah satu terminal. Santri tersebut mengenakan baju koko, sarung, dan kopiah.
Lihat juga:DPR Minta PNS Terlibat Terorisme Ditindak |
Slamet mengaku telah menyampaikan itu semua kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon. PA 212, kata Slamet, meminta DPR untuk mengusut agar jangan sampai kejadian serupa terjadi kembali.
Deteksi Dini
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani menyebut aparat keamanan belum mampu melakukan deteksi dini terhadap serangan teror yang belakangan ini terjadi di beberapa daerah.
"Kewaspadaan kita itu sekarang ini selalu terlambat, tiba-tiba kita dikagetkan," ujarnya di kompleks parlemen, Jakarta.
Muzani menyebut aparat masih kerap kali kaget saat sebuah serangan teror terjadi, padahal sebenarnya sudah ada pola yang dapat terbaca dari serangan-serangan sebelumnya.
Lebih lanjut, ia meminta aparat keamanan untuk tidak menutup-nutupi informasi apa pun terkait serangan teror.
"Sehingga kita tahu di mana harus mengambil posisi untuk membantu negara, agar negara ini betul-betul selamat dari gangguan-gangguan ini. Ini problem bersama, problem kita semuanya," tegasnya. (wis)