"Ini mungkin dalam proses ya. Jadi saya belum bisa menjawab sekarang," ucap dia, di kantor BSSN, Jakarta, Jumat (18/5).
Lihat juga:Beda BSSN dari Badan Siber Lain |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, Djoko juga mengaku sudah mulai melakukan pemetaan terkait titik-titik yang berpotensi terjadi aksi teror. Itu dilakukan demi keamanan pelaksanaan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.
Demi mengoptimalkan pemetaan, Djoko mengatakan BSSN akan bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri. Khususnya, dengan cara membangun jaringan komunikasi antara pusat dengan daerah. Nantinya, BSSN akan dapat ikut di dalamnya.
Meski begitu, Djoko belum bisa menjelaskan langkah-langkah apa yang akan ditempuh BSSN untuk menanggulangi terorisme jika memang sudah menemukan indikasi.
"Tapi kan baru dibentuk ini BSSN. Baru jadi. Kami sedang menyiapkan masa transisi dari Lemsaneg jadi BSSN," dalihnya. "Nanti segera kami tunjukkan kepada bangsa ini bahwa kami sudah siap bekerja," lanjutnya.
Di tempat yang sama, Mendagri Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa BSSN telah bersinergi dengan Badan Intelijen Negara dan Kepolisian. Kini, kata Tjahjo, BSSN akan mengefektifkan kerja sama dengan Kemendagri serta pemerintah daerah.
"Kan enggak mungkin Pak Djoko menjangkau semua wilayah tanpa ada komunikasi dengan kepala daerah, Kapolda. Ini yang harus kita sinkronkan dan kami sepakat," ujar Tjahjo.
"Harus dideteksi. Harus cepat dikejar siapa yang mengembangkan isu. Siapa yang membuat berita fitnah dan sebagainya. Ini negara besar," tandas Tjahjo. (arh/gil)