"Tidak boleh menyerah. Usaha dan niat baik yang sudah lama kita pupuk jangan sampai dirusak oleh orang-orang yang ingin memecah belah kerukunan sesama manusia. Kita harus bekerjasama dan berinteraksi antar masyarakat," ujar Risma saat memimpin upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di Halaman Taman Surya, Surabaya, Senin (21/5).
Tri Rismaharini. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pegang erat tali persahabatan kalian. Ingat, sejarah kita bukan sekedar pemberian tetapi dengan perjuangan. Harus bisa pertahankan itu semua," ujar Risma.
Istri dari Bayu, Monic Dewi Andini, usai menerima piagam dari Risma menyatakan perbuatan suaminya menjadi penyemangat baru bagi ia dan keluarganya.
"Bersatu kembali dan tidak perlu lama bersedih. Mari bersama-sama bangkit untuk memajukan Kota Surabaya dan Indonesia," kata dia.
Untuk penanggulangan selanjutnya pasca bom, Risma menyatakan dirinya terus berkoordinasi dengan jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) dan melakukan tindakan langsung di lapangan seperti menerjunkan tim psikolog yang saat ini sedang memantau anak-anak sekolah SD/SMP yang baru pertama masuk sekolah khususnya mengecek kondisi anak-anak yang mengalami trauma dan terdampak pascarentetan teror bom.
"Nanti sore ada evaluasi lalu kita bentuk tim dengan menggandeng seluruh lapisan masyarakat karena ini ancaman bersama bukan tanggung jawab kepolisian saja tapi semua masyarakat," tuturnya.
Rentetan teror bom bunuh diri di Surabaya terjadi pada Minggu (13/5) dilakukan satu keluarga di tiga gereja secara terpisah di Surabaya. Kemudian, pada malam harinya, ada ledakan bom 'senjata makan tuan' di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo yang juga melibatkan satu keluarga. Dan, pada Senin (14/5) pagi giliran Mapolrestabes Surabaya diteror bom bunuh diri yang dibawa satu keluarga. (dik/kid)
Tri Rismaharini. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)