"[Hubungan] Baik. Saya tidak ada masalah dengan Pak Harto," ujar Habibie usai menghadiri diskusi Refleksi 20 Tahun Kebangsaan di Jakarta, Senin (21/5).
Hubungan Habibie dengan Soeharto pasca reformasi, sebelumnya disebut-sebut memburuk. Soeharto disebut enggan bertemu dengan Habibie.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pribadi tidak ada masalah dengan Pak Harto dan seluruh keluarganya karena kita orang berbudaya. Jadi, itu juga bukan ajaran agama apapun, mengajarkan bahwa kamu harus bunuh orang, lawan orang, dendam," kata mantan Menteri Riset dan Teknologi era orde baru itu.
Tak menemui titik terang, Habibie menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Soeharto untuk membentuk Kabinet Reformasi. Kemudian, Soeharto memanggil Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyid untuk membuat Keputusan Presiden (Keppres) mengenai susunan kabinet baru.
Tak hanya kabinet, Soeharto juga menyampaikan rencananya untuk mengundang pimpinan DPR/MPR ke Istana Merdeka. Pada acara itulah ia akan mengutarakan niatnya untuk berhenti sebagai Presiden.
Pernyataan itu sontak membuat Habibie bingung, sebab saat berbincang membahas susunan Kabinet Reformasi Soeharto tak mengutarakan alasan untuk mengakhiri tugasnya itu.
Selain itu, kata Habibie, Soeharto juga tak menyinggung mengenai posisi Wakil Presiden setelah dirinya mundur.
Pernyataan penuh misteri itu memunculkan tanda tanya di benak Habibie, hingga Habibie memberanikan diri bertanya, "Pak Harto, posisi saya sebagai Wakil Presiden bagaimana?" ucap Habibie dalam buku Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi.
"Terserah nanti. Bisa hari Sabtu, hari Senin, atau sebulan kemudian, Habibie akan melanjutkan tugas sebagai Presiden," jawab Soeharto.
Habibie pun merasa suasana pembicaraan kala itu mulai tak mengenakkan. Kemudian, ia mengalihkan pembicaraan terkait rencana pengunduran diri 14 menteri.
Soeharto mengaku sudah mengetahui kabar itu dari putri sulungnya, Siti Hardianti Rukmana alias Mbak Tutut.