"Kejadiannya masif, penyebabnya diperkirakan sama dari makanan tutut, kita tetapkan status KLB, yang terpenting semua korban diatasi semua," kata Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Bogor, Usmar Hariman, di Bogor seperti dikutip dari Antara Minggu (27/5).
Kejadian ini bermula dari hari Kamis (24/5) sekitar pukul 03.40 WIB banyak warga yang mengkonsumsi tutut mulai merasakan dampaknya dengan gejala pusing, badan panas, mual, muntah dan diare.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka itu pedagang lama, sudah biasa jualan tutut," ucap dia.
"Beberapa warga ada yang berinisiatif merawat sendiri tanpa rujukan puskesmas, dan ada sekitar 19 dirawat di rumah," jelas Muslim.
"Upaya penanganan keracunan sudah berjalan, tim kesiapsiagaan dan surveilance sudah bergerak di lapangan," tegas Lindawati, Sabtu (26/5).
Aparat Polsek Bogor Utara sudah mengamankan barang bukti tutut yang dijual oleh Juju dengan harga Rp2.000 per bungkus. Sedikitnya 80 bungkus "tutut" atau keong dibeli oleh warga.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Rubaeah menguraikan keracunan makanan dialami warga di tiga rukun tertangga yakni, RT 01, 02, dan 05 di RW 07, Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru.
Rubaeah mengungkapkan sampel makanan tutut yang dikonsumsi warga telah dikirim ke laboratorium Labkesda Dinas Kesehatan dan Provinsi untuk mengetahui penyebab pasti keracunan.
Sementara, Kepala Puskesmas Bogor Utara Oki Kurniawan mengatakan warga positif mengalami keracunan akibat bakteri. Tetapi jenis bakteri apa yang terkandung masih dalam analisa di laboratorium.
"Bisa e.coly, atau bisa lebih bakteri lebih parah lagi. Karena dilihat masa inkubasinya mencapai 24 jam setelah mengkonsumsi tutut, timbul gejala deman, mual, muntah dan diare," tutup Oki.
[Gambas:Video CNN] (mik)