Pernyataan tersebut menanggapi kesaksian Pemimpin Redaksi Radar Bogor Tegar Bagja yang menyebut ada salah satu stafnya yang mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan. Menurut Tegar, peristiwa itu terjadi di belakang Aula Radar Bogor pada Rabu (30/5).
"Pemukulan staf itu tidak benar. Kalaupun ada [pemukulan] maka divisum dan dibuktikan secara hukum. Semua sudah duduk bersama dan klir," kata Atty kepada CNNIndonesia.com, Kamis (31/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden kericuhan pun terjadi karena pihak Radar Bogor dianggap tidak kooperatif dan tak responsif dengan permintaan kader PDIP.
Disebutkan bahwa Megawati mendapat Rp112.548.000 dari jabatan Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Koran itu menuliskan "Gaji Para Petinggi Negeri (per bulan)".
"Sementara Ketua Umum kami sampai hari ini tidak pernah mengambil sepeser pun dari uang negara yang menjadi haknya," kata dia.
Ketua Umum PDIP sekaligus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Megawati Soekarnoputri. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Atty mengatakan di tengah kericuhan itu ada salah seorang yang berteriak bahwa PDIP adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) . Teriakan itu makin menyulut emosi para kader. Namun menurutnya, luapan emosi kader tidak sampai memukul staf.
"Memang kader saya emosi, ada salah satu staf yang berteriak bahwa PDIP adalah PKI. Kami tidak terima. Ini ada pesanan apa bahwa teriakan PKI dialamatkan kepada PDIP," ujarnya.
"Sudah dimusyawarahkan dan klir, ya sudah. Kami tidak perpanjang, tidak menempuh jalur hukum," katanya.
Pemimpin Redaksi Radar Bogor Tegar Bagja menyesalkan insiden kericuhan yang terjadi di kantornya. Menurut Tegar, massa PDIP memaki-maki, membentak, mengejar staf Radar Bogor, hingga merusak properti kantor.
"Mereka merusak properti kami, meja rapat hancur, kursi dibanting-banting, saya enggak tahu maksudnya itu apa. Bulan ramadan enggak bisa menahan emosi," katanya.
Atas keberatan yang disampaikan pihak PDIP, Tegar mengatakan bersedia mengoreksi berita dan menerbitkannya pada keesokan hari. Menurutnya, redaksi Radar Bogor tak punya tendensi menyudutkan salah satu pihak dalam pemberitaan tersebut.
