JK membandingkan dengan kondisi di sejumlah negara yang kerap tak memberi waktu untuk beribadah. Bahkan hal itu terjadi saat dirinya berkunjung ke Turki awal Ramadan lalu yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
"Bersyukur hidup di RI, dalam keagamaan saya kira jauh lebih baik dari banyak orang yang bicara tentang keislaman," ujar JK di Jakarta, Kamis (31/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ternyata sebelum waktu maghrib, peserta acara hanya dibagikan teh dan kurma. Di waktu buka puasa pun, acara terus berlangsung.
JK tak menampik bahwa ibadah salat saat itu sebenarnya bisa dilakukan dengan menjamak atau menggabungkan salat magrib dengan isya yang dilanjut tarawih. Hal itu diperbolehkan terlebih posisinya sebagai musafir yang sedang berpergian jauh.
"Betul kalau saya musafir di sana bisa jamak, tapi Erdogan, kan, sudah (tinggal) di Turki. Jadi saya bersyukur di RI pasti interupsi segala macam itu untuk ishoma," tutur JK.
Pengalaman berbeda justru ia rasakan saat berkunjung ke Spanyol yang masyarakatnya mayoritas beragama non muslim. Saat itu juga bertepatan dengan bulan Ramadan.
JK baru saja menempuh penerbangan dari Amerika Serikat singgah di Frankfurt, Jerman, hingga tiba di Madrid, Spanyol.
"Dia bilang, 'muslim ini muslim? hey jangan ini belum'," ucap JK menirukan pelayan saat itu.
JK pun menjelaskan dirinya boleh tak berpuasa karena saat itu sebagai musafir usai menempuh perjalanan jauh. Namun penjelasannya itu justru dijawab oleh pelayan, "Oh justru itu, wakil presiden harus kasih contoh. Janji besok puasa hari ini dikasih kopi tapi besok mesti puasa," tuturnya.
"Maka kita bersyukur suasana luar biasa keagamaan di RI jauh lebih baik dari suasana keagamaan di banyak negara," lanjutnya. (wis)