Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat Sustyo Iriyono mengatakan macan tutul itu tersesat di kandang unggas milik Bambang, warga Kampung Ciruntah, pada Minggu (3/6) lalu.
"Telah masuk seekor satwa macan tutul yang diperkirakan masuk dan terperangkap dalam kandang unggas pada malam hari sebelumnya, dan telah memangsa 3 ekor ayam, dan 2 ekor entok," ujar Sustyo dalam keterangan kepada pers di Bandung, Senin (4/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Heboh Macan Tutul Masuk Rumah Warga |
"Berdasarkan laporan pengaduan tersebut, tim langsung meluncur menuju ke lokasi kejadian," kata Sustyo.
Macan tutul yang tersesat ke perkotaan di Kathmandu, Nepal, 2016. (Reuters/Navesh Chitrakar) |
Tim gabungan berhasil melumpuhkan satwa sekitar pukul 00.15 WIB. Petugas kemudian melakukan identifikasi secukupnya sebelum memasukkan macan itu dalam kandang evakuasi yang telah dipersiapkan.
Hasil identifikasi, kata Sustyo, menjelaskan bahwa macan tutul itu berjenis kelamin jantan, berumur 1,5 tahun. Berat badannya sekitar 25 kilogram. Macan ini diperkirakan berasal dari kawasan hutan Cagar Alam Gunung Tilu.
"Setelah proses evakuasi satwa, tim telah memberikan ganti rugi seharga 5 ekor unggas yang telah dimangsa oleh macan tutul tersebut," jelasnya.
Lihat juga:Si 'Kucing Besar' di Ambang Mara Bahaya |
"Hari ini, akan dipindahkan ke kandang karantina di Kebun Binatang. Setelah dipastikan sehat dalam 2-3 hari, langsung dilepasliarkan," tuturnya.
Sustyo mengatakan, penyebab awal terjadinya macan tutul turun gunung di Gunung Tilu karena memang individu jantan muda dengan usai 1,5 tahun umumnya sering keluar dari habitatnya.
Macan tutul muda yang sudah lepas dari induknya, lanjut dia, akan mencari daerah teritori baru. Secara otomatis, macan itu akan mencari teritori yang tidak dikuasai pejantan lain.
Petugas memeriksa kondisi seekor harimau Sumatera yang sudah dibius, di kawasan perbukitan Timbulun Aia Tajun, Nagari Sungai Liku, Sumatera Barat, 2016. (ANTARA FOTO/Masrian) |
"Adanya anak macan tutul yang keluar itu artinya kawasan sehat, ketersediaan mangsa cukup dan tidak ada aktivitas manusia. Namun, bisa terjadi karena adanya pemisahan kelompok sehingga mulai mencari mangsa sendiri," paparnya.
Dalam kurun dua bulan terakhir, kasus macan turul turun gunung sudah terjadi dua kali. Sebelumnya, kejadian tersebut terjadi di Sukabumi.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, pihak BBKSDA selalu menyiagakan petugasnya.
"Kita punya 22 tim resort base management di Jabar. Tiap resort punya tim gugus, dan ada call center juga. Kita selalu memberikan informasi kepada masyarakat apabila menemukan satwa dilindungi jangan dibunuh," tututp dia.
Macan tutul yang tersesat ke perkotaan di Kathmandu, Nepal, 2016. (
Petugas memeriksa kondisi seekor harimau Sumatera yang sudah dibius, di kawasan perbukitan Timbulun Aia Tajun, Nagari Sungai Liku, Sumatera Barat, 2016. (