Amien mengatakan hal tersebut usai diminta keterangan oleh wartawan terkait ucapannya yang mengajak Jokowi untuk berduel.
Ia, dengan antusias, menunjukkan kemeja putih yang dikenakannya yang bertuliskan #2019GantiPresiden di bagian saku kirinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Ketua MPR itu menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin ada masyarakat yang melakukan jihad filsabiliah. Namun ia mengatakan hal itu mungkin terjadi jika rezim saat ini tidak mengindahkan demokrasi.
Presiden Joko Widodo, di Istana Kepresidenan, Bogor, belum lama ini. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Untuk itu, Amien mengatakan dirinya menantang Jokowi untuk berduel secara demokratis. Tujuannya, tidak ada lagi keributan usai pemilu karena kontestasi berlangsung secara adil.
"Jadi saya tantang Pak Jokowi, mari kita duel secara gentle, ya, jadi Anda kerahkan kemampuan untuk dapatkan suara paling banyak supaya menang, juga berikanlah kesempatan yang sama, ini namanya Demokrasi," ucapnya.
"Nanti yang menang juga enak menangnya, itu fair. Yang kalah juga terima. Tapi kalau kemudian ada campur tangan aseng, main politik uang, main ancam-mengancam, nah itu tidak boleh," ujarnya kemudian.
TNI-Polri
Amien menambahkan bahwa TNI-Polri tidak boleh memberikan pembelaan terhadap partai. Baginya, TNI-Polri merupakan alat negara.
Pada era kepemimpinan Presiden RI ke-1 Sukarno dan di era kepemimpinan Soeharto, kedua institusi itu tidak memberikan dukungan kepada kedua tokoh tersebut saat mereka melakukan kesalahan dalam kepemimpinannya.
Menurut Amien, kepemimpinan Jokowi juga akan ditinggalkan oleh TNI dan Polri jika tidak dapat memenuhi aspirasi bangsa.
"Maksud saya ini, kalau Pak Jokowi ini rezimnya ini tidak menguntungkan bangsa, enggak sesuai UUD, saya kira TNI Polri juga akan selamat tinggal pak," ucapnya.
Presiden Joko Widodo, di Istana Kepresidenan, Bogor, belum lama ini. (