Dialog di Israel, Yahya Klaim Lanjutkan Visi Gus Dur

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Selasa, 12/06/2018 19:51 WIB
Dialog di Israel, Yahya Klaim Lanjutkan Visi Gus Dur Yahya Cholil Staquf menyebut kunjungannya ke Israel untuk melanjutkan pekerjaan Gus Dur dalam mewujudkan keberlangsungan umat manusia. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Katib Aam Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf sempat berdialog dengan Forum Global Yahudi Amerika saat berkunjung ke Israel pekan ini.

Dalam forum dialog dengan Direktur Hubungan Antaragama Rabi David Rosen, Yahya mengatakan bahwa kunjungannya ke Israel kali ini tak lepas dari melanjutkan pekerjaan mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

"Idealisme dan visi yang dimiliki Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang dan tak bisa dicapai secara instan. Kini giliran murid-murid beliau untuk melanjutkan pekerjaan tersebut," ujar Yahya seperti dikutip dari web NU, Selasa (12/6).


Gus Dur diketahui memiliki hubungan yang cukup erat dengan Forum Global Yahudi Amerika sejak 20 tahun lalu. Presiden ke-4 RI itu bahkan pernah tiga kali mengunjungi Israel.

Yahya pun membahas hubungan Islam dan Yahudi dalam forum dialog tersebut. Saat itu Gus Dur menyebut hubungan istimewa antara Islam dan Yahudi yang telah berjalan ratusan tahun.

Jika dibandingkan dengan masa kini, Yahya menilai Islam dan Yahudi memiliki hubungan yang fluktuatif. Ia pun tak menampik masih ada permasalahan antara dua agama tersebut yang bersumber pada ajaran agama itu sendiri.

"Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama Islam maupun Yahudi perlu menemukan cara baru untuk memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Kemudian menemukan interpretasi moral baru yang menciptakan hubungan harmonis dengan agama lain," katanya.

Salah satunya, lanjut Yahya, dengan menginterpretasi ulang teks Al Quran dan hadits.

Ia mengatakan setiap ayat Alquran diturunkan dalam konteks realitas tertentu. Oleh karena itu ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dan moralitas tersebut semestinya juga ikut berubah.

"Nabi Muhammad SAW dalam mengatakan sesuatu juga disesuaikan dengan situasi saat itu, sehingga Alquran dan hadits pada dasarnya memang dokumen sejarah yang berisi panduan moral menghadapi situasi tertentu," terangnya.

Kunjungan Yahya ke Israel menuai polemik lantaran belakangan ini Indonesia menekankan posisinya mendukung kemerdekaan Palestina dan mengkritik pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem.

Yahya bertolak ke Israel atas undangan Universitas Tel Aviv untuk menjadi pembicara dengan tema 'Shifting the Geopolitical Calculus; From Conflict to Cooperation'. (wis/wis)