Dalam forum dialog dengan Direktur Hubungan Antaragama Rabi David Rosen, Yahya mengatakan bahwa kunjungannya ke Israel kali ini tak lepas dari melanjutkan pekerjaan mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
"Idealisme dan visi yang dimiliki Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang dan tak bisa dicapai secara instan. Kini giliran murid-murid beliau untuk melanjutkan pekerjaan tersebut," ujar Yahya seperti dikutip dari web NU, Selasa (12/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yahya pun membahas hubungan Islam dan Yahudi dalam forum dialog tersebut. Saat itu Gus Dur menyebut hubungan istimewa antara Islam dan Yahudi yang telah berjalan ratusan tahun.
Salah satunya, lanjut Yahya, dengan menginterpretasi ulang teks Al Quran dan hadits.
Ia mengatakan setiap ayat Alquran diturunkan dalam konteks realitas tertentu. Oleh karena itu ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dan moralitas tersebut semestinya juga ikut berubah.
Kunjungan Yahya ke Israel menuai polemik lantaran belakangan ini Indonesia menekankan posisinya mendukung kemerdekaan Palestina dan mengkritik pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem.
Yahya bertolak ke Israel atas undangan Universitas Tel Aviv untuk menjadi pembicara dengan tema 'Shifting the Geopolitical Calculus; From Conflict to Cooperation'. (wis)