Dalam kesempatan itu, Prasetyo menyindir soal pelepasan saham PT Delta Djakarta, BUMD produsen bir. Prasetyo mengungkapkan kekecewaan karena Pemprov DKI tidak melibatkan DPRD dalam keputusan itu.
Prasetyo bahkan mengingatkan Sandiaga soal bahaya dosa riba akibat mengambil keuntungan dari penjualan saham bir yang dilakukan pemprov DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Prasetyo juga merespons alasan Sandi saat melepas 26,25 persen saham PT Delta Djakarta. Kala itu, Sandi mengklaim penjualan dilakukan agar pemprov DKI mendapatkan deviden yang halal.
Tak hanya soal bir, Prasetyo menegur Pemprov DKI untuk segera menyelesaikan masalah penutupan Jalan Jatibaru dalam rangka revitalisasi Tanah Abang yang menimbulkan polemik. Hal ini juga mengingat rekomendasi Ombudsman kepada Pemprov DKI untuk segera membereskan maladministrasi dalam kebijakan tersebut.
Ombudsman meminta Pemprov DKI untuk membuka kembali Jalan Jatibaru setelah Lebaran karena ditemukan maladministrasi. Namun Sandi bersikukuh tetap menutup jalan itu hingga Sky Bridge Tanah Abang rampung pada akhir tahun ini.
"Ini sudah satu kebijakan yang awal yang sebetulnya salah, tapi ya kan kita harus cari jalan yang terbaik. Bagaimana mereka [PKL] juga terakomodir di wilayah tersebut gitu loh," kata Prasetyo.
Ketua DPRD DKI Prasetyo sindir Sandiaga Uno soal bir dan tanah abang. (Adhi Wicaksono) |
Menanggapi dua kritikan itu, Sandi berterima kasih atas saran dan kritik yang diutarakan Prasetyo. Hal ini, ucapnya, sebagai bentuk hubungam baik antara eksekutif dan legislatif.
"Banyak PR juga, Kota Tua, Tanah Abang, dan lain sebagainya. Masukan dari pak Pras tadi sudah kita catat," ujar Sandi saat ditemui usai acara silaturahmi.
Adapun soal bir, hingga saat ini pelepasan saham PT Delta Djakarta masih dalam proses. Sandi berucap pihaknya masih berdiskusi dengan konsultan terkait pelepasan saham. Dia juga mengklaim telah mengirim surat ke DPRD untuk memulai pembahasan terkait hal ini.
Ketua DPRD DKI Prasetyo sindir Sandiaga Uno soal bir dan tanah abang. (Adhi Wicaksono)