Terlebih, kata SBY kecurangan dan ketidaknetralan oknum tiga lembaga negara itu dilakukan secara struktur, sistematis, dan masif serta merupakan perintah dari atas.
"Saya khawatir akan menimbulkan perlawanan rakyat dan mari cegah bersama, kita sayang sekali dengan negeri ini," kata SBY saat jumpa pers di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (23/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya juga berharap rakyat kita berani untuk menolak semua tindak kecurangan, termasuk ketidaknetralan. Biar lah rakyat menggunakan haknya, memilih siapa yang disukai, diyakini bisa memimpin," ujarnya.
"Mengapa? Yang saya sampaikan itu bukan isapan jempol. Tidak ada niat seorang SBY melebih-lebihkan dan mendramatisasi, itu bukan DNA saya, saya hati-hati dalam berbicara," ujar SBY menambahkan.
Menurut, SBY, bila terjadi ketidaknetralan yang dilakukan oleh oknum BIN, Polri, dan TNI dalam setiap pesta demokrasi bukan lah kesalahan prajuritnya. SBY menyebut tindakan ketidaknetralan merupakan kesalahan pemimpinnya yang keblinger.
"Jadi justru rasa sayang seorang SBY kepada lembaga yang dicintainya, TNI, Polri, dan BIN itu jangan lah keliru dalam bersikap dalam Pilkada atau Pemilu kelak. Kasian sama prajurit, kasian sama anggota dan kasian sama lembaganya," tuturnya.
Lebih lanjut, kata SBY, BIN, Polri, dan TNI merupakan lembaga negara yang baik. Ia mengaku berada di wilayah ketiga lembaga tersebut hampir 30 tahun. SBY mengaku selama 10 tahun berkuasa tak pernah menggunakan BIN, Polri, dan TNI untuk memenangkan dirinya maupun Partai Demokrat.
"Saya tidak pernah menggunakan kekuatan yang harusnya netral untuk memenangkan partai yang saya pimpin. Tidak apa-apa kalah, sebagaimana nasib partai Demokrat pada tahun 2014 yang lalu," kata dia.