"Siapa sih yang menduga itu. Kami kan menganggap (lawan kuat) hanya Pak Ridawan Kamil pada waktu itu, dan kami tidak menduga pada waktu dekat dan cepat itu semua bisa berubah," kata Dedi di Gedung DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (2/7).
Berdasarkan hitung cepat sejumlah lembaga survei, pasangan Ridwan Kamil-Uu unggul dibandingkan tiga pasangan lawannya, Sudrajat-Syaikhu, Deddy Mizwar-Deddi Mulyadi, dan TB Hasanuddin-Anton Charliyan.
Hal tersebut pun diakuinya tak hanya terjadi pada Pemilihan Gubernur, untuk pemilihan tingkat Kabupaten/Kota Golkar mengalami hal serupa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dedi menilai andai Pilkada tidak dilaksanakan pada 27 Juni 2018, dan diperpanjang tiga pekan setelahnya, hasil Pilgub Jabar tentu akan berbeda. Menurutnya pasangan 'Asyik' bisa saja unggul.
"Bayangkan, mohon maaf ya paslon yang sebelumnya tidak dianggap punya elektabiliti yang baik, tidak punya popularitas yang cukup tinggi dalam waktu cepat mengalami perubahan. Ini tidak main-main," katanya.
Apalagi, kata Dedi, berbagai gerakan yang dia sebut cukup masif dilakukan oleh tim pemenangan pasangan Asyik. Salah satunya dengan menyebarkan gerakan 2019 ganti presiden.
"Ada gerakan yang cukup masif mulai dari selebaran setiap rumah, kemunculan kaos, itu dilakukan di masa tenang, masa kampanye, sehari sebelum pemilihan masih dilakukan," katanya.
Dedi menambahkan demi mempertahankan perolehan suara Partai Golkar menghadapi Pilpres dan Pileg 2019, Dedi mengaku pihaknya akan terus melihat perolehan suara yang telah diraih pada Pilgub Jawa Barat kemarin.
"Perolehan suara saya di situ [Pilgub] sekitar 25 persen itu modal dasar bagi Golkar. Keliatan kan basic pemilihnya kaum tradisional di beberapa wilayah. Yang 25 persen ini kami pelihara dengan baik," kata Dedi.