Hal ini disampaikan sebagai respons atas laporan Amnesty International terkait sejumlah kasus pelanggaran HAM hingga pembunuhan yang dilakukan aparat TNI/Polri di Papua dan Papua Barat.
"Evaluasi itu 10 tahun terakhir sehingga tidak langsung pada pemerintahan saat ini. Intinya, Presiden memberikan sinyal sangat klir, memberikan abolisi kepada tahanan politik, beberapa dikeluarkan. Itu menunjukkan keseriusan pemerintah menangani persoalan HAM," kata Moeldoko, Senin (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyikapi hal itu, Moeldoko menyatakan sejak menjabat Panglima TNI lima tahun lalu, ia telah mengubah sistem kerja termasuk kesadaran prajurit terkait HAM.
Salah satunya mengenai pelatihan penyerbuan dalam ruangan. Salah satunya dengan memberi boneka ibu-ibu, boneka anak-anak, dan boneka lainnya dalam setiap operasi tersebut.
"Kalau dia menembak ibu-ibu apalagi yang sedang menyusui, kami beri hukuman, tindakan fisik. Tujuannya mengingatkan tidak boleh melakukan pelanggaran," ucapnya.
"Kalau prajurit takut HAM nanti mereka tidak kerja. Tetapi kalau menghormati HAM, norma-norma itu harus dijunjung tinggi. Jadi sangat jelas apa yang dilakukan petugas di lapangan," kata Moeldoko.
Atas dasar pelatihan itu, ia menyatakan TNI sempat mendapat apresiasi Komnas HAM karena terjadi penurunan tingkat pelanggaran HAM.
Aparat, kata Moeldoko, akan mendahulukan perlindungan dan keselamatan masyarakat.
"Karena di satu sisi TNI/Polri ingin melindungi masyarakat dari tekanan dan ancaman. Pada sisi lain akan terjadi benturan. Tapi kalau nyata melanggar masyarakat tidak bersalah, (komandan) akan tegas, termasuk (kepada) perwira," ucapnya. (wis/gil)