"Kita sekarang sudah di bulan Juli dan ini bulan-bulan mulai deg-degan," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, di kantornya, Rabu (4/7).
Menurut Siti, cuaca di Riau yang sangat terik dan kering berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini harus kita waspadai karena di bulan-bulan Juli, Agustus, September, itu rawan," lanjutnya.
Raffles mengatakan, hotspot bukanlah titik api karhutla. Melainkan daerah yang memiliki suhu permukaan relatif lebih tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya berdasarkan ambang batas suhu tertentu yang terpantau oleh satelit penginderaan jauh.
"Setiap ada hotspot kami cek apakah itu api atau bukan karena bisa saja hotspot itu bukan api, (tetapi) karena panas. Hotspot kan temperatur, suatu wilayah karena panas terik atau ada pertambangan," ujarnya.
Sementara itu, kata Raffles, total luasan area hotspot di Indonesia dari Januari hingga Juni 2018 mencapai 22 ribu hektare. Luasannya hampir sama antara lahan gambut dan mineral.
Adapun saat ini sudah ada delapan provinsi yang menyatakan status siaga karhutla, yaitu Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur. (ayp/gil)