Fenomena alam itu diperkirakan muncul akibat dinginnya suhu udara di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mencontohkan sebelum embun upas muncul pada Jumat (6/7) dini hari, suhu udara pada Kamis (5/7) sore terasa sangat dingin dan malam harinya makin dingin.
Alif mengakui munculnya embun upas merupakan fenomena menarik bagi wisatawan karena seolah Dataran Tinggi Dieng diselimuti salju.
Akan tetapi, katanya, fenomena alam itu merusak kesuburan tanaman kentang yang banyak dibudidayakan petani di Dataran Tinggi Dieng.
Tanaman kentang yang terkena embun upas akan mengering dan bisa mati.
"Seperti sore ini banyak tanaman kentang yang mengering akibat terkena embun upas yang muncul tadi malam hingga Jumat dini hari," kata Alif.
Kepala Desa Dieng Kulon Slamet Budiono mengakui jika embun upas mulai muncul dalam beberapa hari terakhir namun masih tipis dan tidak luas.
Akan tetapi, kata Slamet, embun upas yang muncul pada Jumat (6/7) dini hari cukup luas dan areal tanaman kentang yang terpapar terlihat putih seperti tertutup bunga es.
Ia memperkirakan luas lahan tanaman kentang yang terpapar embun upas sekitar 30 hektare.
"Kalau tanaman kentang dengan umur di bawah 60 hari ada kemungkinan akan puso, daun tanaman kentang bakal menguning seperti terbakar," kata Slamet.
(ard)