Hal ini membuat polemik di tubuh Partai Demokrat dan kalangan Islamis. Partai Demokrat menyatakan pernyataan TGB bersifat pribadi. Sedangkan kelompok Islamis langsung mencoret sosoknya dari daftar bakal calon presiden.
Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsudin Haris menilai sikap politik TGB menunjukkan sisi pragmatisme politik dari seorang politisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alasannya pragmatis, ya, Pak TGB saya pikir dia melihat peluang besar bagi dia pribadi ke depan [dengan mendukung Jokowi]," ujar Syamsudin saat menghadiri diskusi Para Syndicate, Jakarta Selatan, jelang akhir pekan.
Menurutnya segala tindakan yang tak memberikan keuntungan bagi dirinya maupun kelompoknya pasti akan ditinggalkan sekalipun bernilai ideologis.
Terlebih lagi, kata Syamsudin, masa jabatan TGB sebagai Gubernur NTB dua periode akan berakhir dalam waktu dekat. Oleh karena itu, TGB harus mempertahankan kekuasaannya dengan mencari jabatan lain di tingkat nasional ketimbang hanya regional.
Syamsudin menilai bahwa TGB tak serta merta menginginkan jabatan calon wakil presiden dari Jokowi. Sebab, ia melihat popularitas TGB hanya bersifat lokal dan belum menjangkau secara nasional untuk menjadi cawapres.
Syamsudin lantas menilai TGB hanya mengincar jabatan strategis di level nasional seperti jabatan menteri atau selevel kepala lembaga negara.
"Paling tidak, mungkin bagi TGB bisa menjadi salah satu pejabat nanti pada kepemimpinan Jokowi pada masa bakti kedua. Entah menjadi menteri, entah menjadi apa, lah," ungkapnya.
Menurutnya, TGB bukanlah kader elite dalam Partai berlambang Bintang Mercy tersebut. Ia menyebut bahwa suara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) lebih berpengaruh bagi kader Demokrat ketimbang TGB.
"Saya kira belum tentu (mengubah suara kader Demokrat). Sebab TGB enggak sowan atau minta izin. Enggak minta restu ke pak SBY. Lebih berpengaruh suara AHY ketimbang TGB," ujarnya.
Tak hanya itu, Syamsudin menilai bahwa dukungan TGB itu belum tentu mengerek elektabilitas Jokowi secara signifikan di kalangan kelompok Islam. Dia kembali menilai sosok TGB hanya populer di level regional, yakni di Provinsi NTB.
Terlebih lagi, kelompok Islam Persaudaraan Alumni 212 menyatakan sudah mencabut dukungan terhadap TGB sebagai bakal calon presiden Indonesia. (ayp/ugo)