Din Syamsuddin yang memimpin forum itu hadir sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (UKP DKAP). Din mengaku keberatan jika ada penggunaan istilah itu dan meminta masyarakat tidak menggunakan istilah hewan untuk mendegradasi atau merendahkan manusia.
Penggunaan label seperti 'cebong' dan 'kampret' menurutnya sama saja tidak menghargai Tuhan yang telah menciptakan manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Label 'cebong' dan 'kampret' populer di media sosial. Sebutan 'cebong' atau 'kecebong' merujuk pada para pendukung Jokowi. Sedangkan sebutan 'kampret' merujuk ke pendukung Prabowo Subianto.
Din menegaskan bahwa Islam menghormati semua manusia, termasuk kepada para nonmuslim.
"Manusia itu siapapun, adalah makhluk ciptaan Allah. Agama menyebutkan 'karamna bani Adam, kami memuliakan bani Adam, bukan hanya muslim, bukan hanya mukmin'," kata Din.
Uung yakin penyebutan 'cebong' ataupun 'kampret' hanya menyakiti saja.
"Sebenarnya menonjolkan identitas tidak menjadi persoalan tapi jangan justru saling menyakiti saling menghina orang yang lain," kata Uung.
Uung dan Din berkumpul dalam forum Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) bersama lima perwakilan agama lain. Mereka khawatir pola komunikasi di media sosial yang penuh dengan ujaran kebencian, penghinaan, dan kepentingan sektarian yang ekstrem bisa makin parah ketika Pilpres 2019 berlangsung nanti.