Selain survei kuantitatif, LSI Denny JA juga menggunakan penilaian ahli atau expert judgment sebagai turunan dari pendekatan kualitatif. Penilaian itu menghasilkan lima nama cawapres tersebut.
Kelima nama itu adalah Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disusul oleh Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebesar 21,5 persen dan Ketum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy sebesar 16 persen.
"Salah satu faktor yang menyebabkan Airlangga Hartarto teratas karena statusnya sebagai ketua umum Partai Golkar, partai pemenang kedua pemilihan legislatif 2014," kata Adjie.
Susi Pudjiastuti
LSI juga menanyakan kepada responden soal cawapres Jokowi berdasarkan latar belakang persoalan ekonomi, hukum dan keamanan, serta agama.
Survei LSI Denny JA dilaksanakan rentang 28 Juni-5 Juli 2018 melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Metode survei adalah multistage random sampling dengan 1200 responden dan margin of error kurang lebih 2,9 persen. Survei dilaksanakan di 33 provinsi di Indonesia.
Terpisah, Kriteria Cawapres di Mata Moeldoko enggan berkomentar mengenai dukungan relawan yang diberikan padanya untuk menjadi cawapres Jokowi.
Dia hanya mau menjawab saat ditanya soal kriteria cawapres yang dibutuhkan Indonesia menururt pandangannya.
"Yang pertama memiliki integritas yang tinggi. Jadi antara ucapan dan perilaku selaras," jawab Moeldoko dalam acara diskusi Menuntaskan Pembangunan untuk Seluruh Indonesia di Jakarta.
"Yang ketiga adalah loyalitasnya. Dia memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap negara bahkan istri di belakang dulu," lanjutnya.
Pada poin terakhir, Moeldoko menyebut bahwa seorang pemimpin yang baik memiliki kapabilitas yang tinggi. (wis)