Meski begitu, menurut Boni, Jokowi harus mempertimbangkan faktor politik Islam hingga politik bernuansa SARA dalam menentukan pilihannya.
"Saya melihat dengan munculnya kebangkitan Islam politik maka figur yang dibutuhkan adalah seorang pemimpin muslim yang intelek, punya wawasan. Sama dengan Pak Jokowi yang memahami Indonesia. Artinya, yang menjamin masa depan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI," kata Boni ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (11/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi belakangan survei bahwa 70-an persen pemilih muslim mendukung Pak Jokowi. Ini akan memperkuat dengan munculnya muslim yang intelek sebagai wakil presiden. Saya pikir ini akan menjadi kekuatan baru," katanya.
"Saya pikir tokoh besar. Cuma nanti apakah salah satu dari nama itu kita enggak tahu," ujarnya.
Berdasarkan nama yang beredar itu, Boni mengatakan bakal mengerucut hingga tinggal satu calon yang juga merupakan hasil kesepakatan semua partai koalisi.
"Semua akan setuju. Ini saya kira hasil kesepakatan semua partai. Pak Jokowi ini ahli strategi. Dia tahu betul bagaimana mengambil keputusan. Sehingga saya pikir tidak ada kontroversi terkait itu," kata dia.
"Ya, hari ini kan tantangan ekonomi selain tantangan sosial kebangkitan-kebangkitan ideologi-ideologi radikal tapi faktor utama juga ekonomi," katanya. (wis/pmg)