"Saya kira itu bukan dari Pak Jokowi. Ada seseorang yang mencoba meraba-raba dari yang selama ini dekat dengan Jokowi," tutur Baidowi usai menghadiri diskusi di bilangan Cikini, Jakarta, Sabtu (14/7).
Lagipula, lanjut Baidowi, cenderung banyak tokoh berinisial M yang selama ini kerap berkomunikasi dengan Jokowi. Dia menyebutkan, bisa saja M yang dimaksud itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko, dan Ketua Umum PPP Muhammad Rommahurmuziy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya bisa saja disebut-sebut. Tetapi enggak yakin kalau itu muncul dari Pak Jokowi," ujar Baidowi.
Peluang nama-nama itu disebut-sebut paling kuat ketimbang nama kandidat lain yang kerap diisukan menjadi cawapres Jokowi.
Pertemuan Petinggi Partai Pendukung Jokowi
Selain soal kabar cawapres Jokowi berinisial M, Baidowi juga mengatakan, para pejabat teras partai politik koalisi pendukung Jokowi akan mengadakan pertemuan pekan depan. Baidowi mengatakan pertemuan bakal dihelat untuk mempersolid koalisi.
"Kedua, tentang figur cawapres dari Jokowi segera dirumuskan siapanya," ujar Baidowi.
Hal lain yang akan dibahas mengenai pemenangan Jokowi pasca Pilkada 2018. Baidowi mengklaim koalisi partai pendukung Jokowi mendominasi kemenangan Pilkada 2018.
Baidowi mengamini bahwa Edy-Musa tidak diusung oleh PDIP yang merupakan partai Jokowi. Namun, bukan berarti Edy-Musa berseberangan pandangan politik dengan Jokowi.
"Jangan dibilang anti Jokowi, di situ ada Golkar, Hanura, NasDem yang selama ini sudah memastikan mendukung pak Jokowi," katanya.
Baidowi mengatakan bahwa calon kepala daerah memang tidak dapat menjadi mesin politik kala Pilkada 2018. Meski begitu, mesin partai bekerja secara optimal sebagai pemanasan Pemilu 2019 yang akan datang.
"Mesin partai yang bekerja di 2018 itu jadi batu uji untuk Pemilu 2019," kata Baidowi. (osc)