Pada Pilkada DKI Jakarta 2017, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok rentan diserang dengan isu SARA lantaran memiliki identitas kesukuan dan keagamaan yang berbeda dengan para pesaingnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan mengatakan Pemilu 2019 berpotensi tak banyak diramaikan dengan isu SARA karena sejumlah sebab.
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pengadilan kasus penistaan agama, 2017. (AFP PHOTO / POOL / Dharma WIJAYANTO) |
"Kalau pemilunya kompetitif, jarak antara calon pemenang dan calon pecundang jaraknya dekat, tapi kalau jaraknya jauh, politik identitas susah main," ungkap Djayadi, saat ditemui di sebuah diskusi di wilayah Menteng, Jakarta, Selasa (17/7).
Ia mencontohkannya dengan Pemilu Presiden 2014 saat pasangan Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa berkompetisi ketat.
Saat itu, hasil-hasil survei memperlihatkan perbedaan yang tak signifikan dalam hal raihan suara antara kedua kubu.
Jokowi kemudian diserang dengan isu bernuansa SARA yang menyatakan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu merupakan keturunan Tionghoa hingga PKI.
Semantara, hari ini survei-survei menunjukkan perbedaan yang lebar dalam hal raihan suara dari petahana atas kandidat lainnya, termasuk Prabowo.
"Kalau besok Pilpres 2019 Jokowi diserang isu, dia Kristen atau apa saja, Jokowi kan statusnya petahana, misalnya saya bertarung, lalu saya menggunakan isu jokowi anti islam, itu ga bakal laku, karena [jarak suara antar kandidat] terlalu jauh, itu enggak kompetitif," tutur Djayadi.
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Selain kasus Ahok, ia juga mencontohkan Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018 yang diikuti oleh paslon Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah dengan Djarot Siaful Hidayat-Sihar Sitorus. Ketika itu, isu identitas suku dan putra daerah digunakan untuk mengalahkan Djarot, yang merupakan eks pasangan Ahok di Pilkada DKI.
"Jadi Kalau ada dua identitas yang saling berhadapan, dan bentuknya polarisasi ekstrim, misalnya jawa-non jawa, atau putra daerah dan non putra daerah, itu bisa terjadi," ujarnya.
Tak hanya itu, sambung Djayadi, perilaku pemilih di pilgub Kalimantan Barat 2018 lalu menunjukan hal serupa. Bahwa, sekitar 90 persen pemilih non-muslim memilih pasangan Karolin Margaret Natasha-Suryadman Gidot. Sebaliknya, sekitar 90 persen pemilih muslim memilih pasangan Sutarmiji-Ria Norsan.
Calon gubernur Sumatra Utara Djarot Saiful Hidayat (kiri) dan Edy Rahmayadi (kanan), sempat bertarung dalam kompetisi yang diwarnai isu SARA. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi) |
Namun demikian, Djayadi tetap mewanti-wanti soal bahaya laten meletusnya politik identitas. Beragamnya identitas yang dimiliki masyarakat Indonesia membuat isu SARA mudah diletuskan.
"Indonesia kan penduduknya punya identitas semua. Masing-masing punya identitas, jadi identitas agama dan etnis itu jadi sesuatu yang laten," tandas dia.
(arh/asa)
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pengadilan kasus penistaan agama, 2017. (
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, beberapa waktu lalu. (
Calon gubernur Sumatra Utara Djarot Saiful Hidayat (kiri) dan Edy Rahmayadi (kanan), sempat bertarung dalam kompetisi yang diwarnai isu SARA. (