"Bukti transaksi sebesar Rp576 juta dalam kegiatan ini diduga merupakan bagian dari pemenuhan dari permintaan bupati sekitar Rp3 miliar," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (18/7).
Pangonal dan Effendy telah ditetapkan sebagai tersangka suap terkait proyek-proyek di lingkungan Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"UMR (Umar Ritonga) kemudian datang ke bank dan mengambil uang Rp500 juta tersebut pada petugas bank," ujarnya.
Namun, Umar yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini berhasil melarikan diri saat akan ditangkap tim KPK usai mengambil uang Rp500 juta dari Bank Sumut. Sampai saat ini, keberadaan Umar belum diketahui.
Sementara itu, Pangonal dan Effendy kini telah berada di Gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan.
Pangonal dan Umar diduga sebagai penerima suap, sementara Effendy sebagai pemberi suap.
Pangonal dan Umar dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Sedangkan Effendy dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (res)