Situs pengukur kualitas udara asal Amerika Serikat, Air Visual, kembali mendapuk Jakarta sebagai juara dunia kota paling tercemar pada Kamis (19/7) lalu.
Air Visual mencatat udara Jakarta masuk kategori tidak sehat (unhealthy). Jakarta mengalahkan kota-kota sibuk dunia, seperti Dubai (Uni Emirat Arab), Kuwait City (Kuwait), Mumbai (India), dan Beijing (China).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Contoh di depan mata, uji emisi sudah diamanatkan dua aturan. Tapi sejak 1996, masa uji emisi sifatnya masih sukarela, pengendara yang mau saja, kan konyol," kata Safrudin kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (21/7).
Meski demikian pelaksanaannya belum serius. Masih banyak pelanggar yang dibiarkan. Lalu transportasi umum juga tak disiapkan sebagai langkah memfasilitasi perpindahan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Menurut pakar Ilmu Keolahragaan Institut Teknologi Bandung Tommy Apriantono, kualitas udara Jakarta yang buruk berpotensi mengganggu perhelatan Asian Games 2018. Tommy menyebut kualitas udara yang buruk bakal memengaruhi cabang olahraga yang dilakukan di luar ruangan dan berdurasi panjang. Olahraga seperti itu membutuhkan asupan oksigen yang banyak.
"Kalau tinggi tingkat polusi udara, khususnya karbon dioksida, sangat memengaruhi cabang tertentu misalnya lari marathon dan jalan cepat," kata Tommy saat dihubungi CNNIndonesia.com.
Kejadian seperti ini, ucap Tommy, pernah terjadi saat perhelatan Olimpiade 2008 di Beijing, China. Saat itu kualitas udara sangat buruk, bahkan jarak pandang sangat pendek.
Komite Olimpiade Internasional (IOC) sampai turun tangan. IOC meminta Pemerintah China untuk melakukan segala cara untuk menekan polusi udara di Negeri Tirai Bambu.
"Kalau Jakarta masih seperti ini, gugatan dari kontingen mungkin tidak ada, tapi akan ada keluhan. Itu kan memalukan negara kalau sampai dikeluhkan," ujar Tommy. (ayp/asa)