"Tinggi gelombang maksimum pada akhir pekan kemarin turun menjadi empat meter namun masih tergolong berbahaya," kata Teguh di Cilacap, Jateng, Senin (23/7) dikutip Antara.
Akan tetapi, katanya, berdasarkan pantauan citra satelit cuaca, gelombang di laut selatan pada Senin ini diprakirakan kembali mengalami peningkatan, terutama di wilayah Samudera Hindia selatan Jateng-DIY.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, tinggi gelombang di wilayah Samudra Hindia selatan Jateng-DIY pada Selasa (24/7) hingga Rabu (25/7) diperkirakan mencapai lebih dari enam meter.
Ia mengatakan pusat tekanan rendah di perairan timur Taiwan sebelumnya merupakan badai Ampil yang muncul di Samudera Pasifik timur laut Filipina dan memicu gelombang setinggi enam meter di laut selatan Jateng-DIY pada 21 Juli 2018.
Ia mengatakan kekuatan badai tersebut telah melemah dan menjadi tekanan rendah serta posisinya bergeser ke perairan timur Taiwan.
Kekuatan badai Son-Tinh di sekitar perairan selatan Vietnam dan turut memicu terjadinya gelombang tinggi di laut selatan Jateng-DIY pada 21 Juli, kata dia, telah melemah dan menjadi pusat tekanan rendah yang berkekuatan 998 milibar.
"Interaksi antara pusat tekanan tinggi di belahan bumi selatan dan pusat tekanan rendah di belahan bumi utara itu memicu terjadinya angin kencang sehingga berdampak pada peningkatan tinggi gelombang di laut selatan Jateng-DIY," katanya.
Terkait dengan itu, Teguh mengimbau semua pihak yang melakukan aktivitas di laut untuk memperhatikan risiko angin kencang dan gelombang tinggi demi keselamatan. Imbauan khusus diperuntukkan bagi nelayan tradisional yang menggunakan perahu berukuran kecil agar mewaspadai angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan gelombang tinggi.
"Jika memungkinkan, nelayan diimbau untuk tidak melaut terlebih dahulu karena gelombang tinggi sangat berbahaya," katanya.
Kapal feri mewaspadai kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter, sedangkan kapal ukuran besar, seperti kapal kargo, diimbau mewaspadai kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas empat meter.
Ilustrasi prakiraan cuaca dari BMKG. (ANTARA FOTO/Darwin Fatir). |
Di tempat lain, Anggota Forum Koordinasi SAR Daerah (FKSD) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, juga mewaspadai gelombang tinggi laut selatan Sukabumi akibat cuaca buruk yang dipengaruhi kecepatan angin mencapai 30 km per jam.
"Prakiraan cuaca yang kami terima dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ketinggian gelombang di perairan laut Sukabumi dua hingga empat meter, bahkan di luar Teluk Palabuhanratu gelombang bisa saja lebih tinggi," kata Ketua FKSD Kabupaten Sukabumi Okih Fajri di Sukabumi, Senin.
Pihaknya juga sudah mengimbau kepada nelayan, apalagi yang menggunakan kapal kecil atau tradisional, lebih baik tidak melaut karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan laut.
Meski begitu, pihaknya meyakini nelayan yang mencari ikan di laut sudah mempunyai perhitungan yang matang. Selain itu, setiap nelayan pun diwajibkan menggunakan life jacket atau pelampung demi keselamatannya selama menjaring ikan di laut.
Untuk itu, FKSD Sukabumi sudah menyiagakan anggota di sejumlah lokasi pantai di Sukabumi. Mereka akan terus memonitor jika terjadi kecelakaan laut akan segera bisa ditangani.
"Kami sudah siagakan anggota untuk memantau aktivitas di laut, sehingga jika ada laporan kecelakaan laut bisa langsung ditanggulangi untuk meminimalisasikan korban," kata Okih. (osc/gil)
Ilustrasi prakiraan cuaca dari BMKG. (ANTARA FOTO/Darwin Fatir).