Hal itu akan ditempuh bila Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan uji materi pasal soal presidential treshold atau ambang batas pencalonan presiden yang termaktub dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
"Insya Allah kita mengusulkan [capres]. Pasti kita prioritaskan Ketum lah," kata Badaruddin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai cawapres, Badaruddin enggan bicara banyak. Dia menampik mantan Panglima TNI Jenderal Purn Gatot Nurmantyo dipersiapkan untuk menjadi cawapres Tommy jika MK mengabulkan gugatan ambang batas pencalonan presiden menjadi 0 persen.
Badaruddin mengamini bahwa Gatot sempat menjadi pembicara dalam acara pembekalan caleg Partai Berkarya yang dihelat di Sentul, Senin (23/7).Namun, Badaruddin menegaskan kehadiran Gatot tidak berkaitan dengan Pilpres 2019.
"Tidak ada pembicaraan pilpres. Dia hanya mengisi acara," kata Badaruddin.
MK sampai saat ini belum memutuskan perkara gugatan uji materi Pasal 222 UU Pemilu. Pasal ini digugat oleh dua pihak, salah satunya oleh pemohon perkara nomor 49/PUU-XVI/2018 yang terdiri dari mantan anggota KPU Hadar Nafis Gumay, mantan Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas, dosen hukum tata negara Feri Amsari, dan lembaga Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
Feri menyatakan ada kekeliruan tafsir dilakukan oleh pembuat UU Nomor 7/2017. Sebab menurut dia sebenarnya dalam UUD 1945 tidak pernah disebut soal ambang batas pencalonan suara.
"Artinya, secara original intens memang tidak ada maksud pembatasan syarat pencalonan presiden," kata Feri dalam persidangan. (wis)