Untuk mengantisipasi bencana kekeringan tersebut, Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya masih menunggu rekapitulasi data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait kabupaten/kota yang terdampak.
Sejauh ini, kata Sutopo, berdasarkan laporan yang diterimanya daerah paling rawan kekeringan adalah di Jawa, Bali, dan Kepulauan Nusa Tenggara
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat, kata Sutopo, sudah mempunyai mekanisme dan cara tersendiri dalam menghadapi bencana kekeringan.
Jumlah total bantuan distribusi air ke empat kabupaten tersebut per 19 Juli 2018 adalah sebesar 1.000 tangki, dengan kapasitas 5 ribu liter per tangki.
"Karena ini berulang setiap tahun. Pemerintah membantu dengan mengirim, droping, air bersih," ujarnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika sementara itu memprediksi mulai hari ini hingga dua hari ke depan akan terjadi konsentrasi massa udara basah lapisan rendah yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia.
Hal itu berpeluang menimbulkan hujan lebat disertai angin kencang, kilat/petir di wilayah Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua Barat bagian timur, dan Papua.