Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menduga SBY memiliki informasi penting soal peristiwa Kudatuli itu.
"Kami mengharapkan pihak saat itu, termasuk bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dari pada terus bicara tentang koalisi partai, lebih baik juga berbicara tentang arah masa depan bangsa ini dengan membuka apa yang sebenarnya terjadi karena beliau memegang informasi," kata dia, saat ditemui di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Kamis (26/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut SBY, yang juga Presiden RI ke-6 itu, turut menjadi saksi terkait peristiwa kelabu tersebut karena saat itu masih aktif bertugas di militer.
Suasana saat peristiwa Kudatuli, di Jakarta, 27 July 1996. (AFP PHOTO / JOHN MACDOUGALL) |
Dia pun berharap kejadian itu tak terulang kembali dan indikasi pelanggaran HAM berat dalam kasus itu dapat diungkap oleh pemerintah.
"Demi masa depan bangsa dan negara, berbagai hal tersebut yang menimbulkan korban jiwa dapat diungkap dengan baik dan proses rekonsiliasi dijalankan dengan para korban," pungkasnya.
Saat itu, PDI terpecah menjadi dua kepengurusan. Kantor itu tengah dikuasai oleh pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan disebut dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan, yang didukung Pemerintah Soeharto), dibantu oleh aparat dan segerombolan preman.
SBY saat itu masih menjabat sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) Jaya. Sementara, Pangdam Jaya dijabat oleh Sutiyoso.
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, di Jakarta, belum lama ini. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Pada 2003, penyelidikan lanjutan dilakukan. Hasilnya, lima orang dinyatakan tewas, 149 orang luka, dan 23 orang hilang dalam peristiwa itu. Selain itu, kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp 100 miliar.
(arh/sur)
Suasana saat peristiwa Kudatuli, di Jakarta, 27 July 1996. (
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, di Jakarta, belum lama ini. (