Teguh mengatakan pengebutan pengerjaan di sana membuat seakan-akan Kali Item baru menimbulkan bau tak sedap akhir-akhir ini.
"Sebenarnya Kali Sentiong permasalahannya sudah cukup lama. Endapan-endapan lumpurnya, sedimen-sedimen sampahnya, termasuk juga bau yang ditimbulkan berasal dari pencemaran lingkungan rumah tangga di sekitar kawasan Sentiong," ucap Teguh saat dihubungi, Senin (30/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kita sudah hitung kapasitas di sana, kalau alat berat kita khawatirkan jadi longsor di sana. Bebannya berat dan kapasitas lokasinya kanan kiri parapet, batu kali, belum di sheet pile (turap baja)," ucapnya.
"Sebenarnya kan sudah diperbaiki secara maksimal oleh pendahulunya, kan ada di media sosial. Semua kan banyak, sudah dikeruk, ada peradaban lah di situ," ujar Prasetio di Balai Kota Jakarta, Rabu (25/7).
Prasetio menyebut setelah ada penyodetan pada era Gubernur Joko Widodo, Kali Item mengalir normal dan tak ada warga yang membuang sampah di sana. Ia meminta seharusnya Anies lebih sibuk bekerja ketimbang menyalahkan gubernur-gubernur sebelumnya.
"Sebetulnya kan masih ada waktu, kenapa alatnya enggak diturunkan ke situ? Dulu bisa kok," tuturnya.
Mereka mengoperasikan lima unit pompa yang mampu memompa 2.000 liter per detik. Lalu juga ada satu mesin yang mampu memompa 5.000 liter per detik.
Pemompaan berfungsi untuk mengurangi endapan lumpur dan sampah yang jadi sumber bau di Kali Sentiong. Teguh menyebut akan melakukan hal yang sama di dua belas sungai lainnya.
"Karena kan hampir semua kali yang ada di Jakarta seperti itu, hitam pekat dan bau. Bagaimana kita melakukan pembangunan IPAL (instalasi pengelolahan air limbah) komunal agar saluran sanitasi warga di Jakarta baik," lanjutnya.
Warga Jakarta dan netizen banyak yang menuding kasus Kali Sentiong sebagai ketidakseriusan Gubernur Anies mempersiapkan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games.
(wis/asa)