Perempuan berusia 45 tahun itu mengaku sempat kekurangan minum saat terjebak selama tiga hari dua malam di gunung api tertinggi kedua di Indonesia itu.
Ia bersama dua rekan kerjanya, dua porter, dan satu pemandu (guide) terjebak di kawasan pendakian akibat longsor yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok Timur pada Minggu lalu (29/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siasat lain, Suharti bersama kelompoknya terpaksa hanya makan sisa cemilan yang terbawa untuk mengganjal rasa lapar.
"Saya bilang jangan masak, karena takut air jadi habis kalau masak," katanya.
Ketika cadangan air kian menipis, guide-nya memutuskan untuk pergi ke Danau Segara Anakan, sebuah danau yang terletak di tengah Gunung Rinjani.
Sesampainya di sana, kata Suharti, ternyata kondisi di Segara Anakan lebih baik dan semua pendaki yang ada di situ sudah mulai mengarah ke Sembalun.
"Maka kami bersama-sama turun ke sana," jelasnya.
Suharti dievakuasi petugas menggunakan helikopter. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) |
Erlyn Halimatu Sadiyah (26), rekan sekelompok Suharti menambahkan mereka juga mulai bisa mengisi perut karena bisa kembali memasak kentang dan ikan yang ditangkap di danau itu.
"Kami terakhir makan pada sore kemarin (Senin), itu makan kentang dan hasil mencoba memancing di danau," tuturnya.
"Karena sudah ada sinyal dan kami sempat dengar suara helikopter, tapi ternyata helikopter tidak bisa menyelamatkan kami karena kesulitan mendarat dan cuaca tidak mendukung," terangnya.
Keterbatasan itu membuat Suharti dan kelompoknya harus menunggu hingga Selasa pagi untuk dievakuasi oleh tim SAR melalui jalur darat. Rencananya itu berubah lantaran kondisi cuaca yang mendukung. Mereka akhirnya dibawa oleh helikopter milik Basarnas. (wis/gil)
Suharti dievakuasi petugas menggunakan helikopter. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)