"Itu salah satau opsi yang mungkin diambil kalau memang situasinya tidak memungkinkan," ujar Suhud saat dihubungi, Rabu (1/8).
Suhud mengatakan partai koalisi sampai saat ini belum mencapai kesepakatan soal sosok cawapres yang bakal mendampingi Ketum Gerindra Prabowo.
PKS meminta Prabowo menerima hasil ijtima ulama GNPF Ulama yang salah satunya merekomendasikan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufrie sebagai cawapres. Selain Salim, Suhud juga menyebut PKS memiliki delapan kader yang berpotensi menjadi cawapres.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika nama lain yang keluar kami akan membawa kembali ke DPP dan Majelis Syuro PKS. Apakah itu diterima atau tidak, itu tergantung pembahasan. Jadi posisi kami menunggu keputusan Pak Prabowo," ujarnya.
Meski berpeluang, Suhud mengaku sampai saat ini belum ada pembahasan cawapres dengan mitra koalisi. Ia mengatakan pembahasan masih seputar penyelarasan visi dan misi.
Abstain dalam pilpres bukan hal baru dalam politik di Indonesia. Pada 2014, Demokrat menyatakan tidak mendukung salah satu pasangan capres dan cawapres.
Saat itu, terdapat dua pasangan yakni Prabowo-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. PKS yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta hingga kini masih bertahan sebagai partai oposisi pemerintah.