Pengamat politik Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai bahwa pendukung Islam Prabowo berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama. GNPF Ulama sendiri akan menginisiasi Ijtimak Ulama II setelah Jokowi dan Prabowo mengumumkan bakal cawapresnya kemarin.
Menurut Adi, Pembina GNPF Ulama Rizieq Shihab akan tetap mendukung lawan Jokowi, tak peduli siapapun cawapresnya. Apalagi Ma`ruf dinilai tak satu aliran dengan HRS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tak beririsan, bukan berarti kubu Prabowo tak akan memainkan isu agama untuk menggalang suara. Dengan distribusi yang kuat GNPF, kubu tersebut dipandang akan bekerja di bawah tanah untuk menarik pemilih Islam perkotaan yang tak segaris dengan Ma`ruf.
Bisa saja, mereka adalah mantan pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang pernah kecewa dengan Ma`ruf Amin. Atau, bisa juga pemilih Islam baru.
"Imagenya sekarang bahwa pemimpin yang mengakomodasi ulama itu Jokowi bukan Prabowo. Kalau mau mainkan isu agama berarti bunuh diri Prabowo. Karena ulama yang mendampingi Jokowi. (Tapi) Mereka akan menyasar pemilih Islam yang tidak sejalan dengan Ma`ruf amin," lanjut Adi.
Soal mana yang lebih besar antara pemilih moderat dan tekstual, Adi yakin kelompok NU lebih besar. Sebab, Islam moderat hadir lebih dulu di Indonesia. Sedangkan Islam tekstual hadir pasca Revolusi Iran setelah 80-90an sebagai ajaran impor yang agak keras.
"Umurnya saja jauh lebih lama yang Islam moderat dibanding Islam tekstual, tentu saja moderat lebih banyak," kata dia.
Tanpa head to head ulama, kampanye juga diprediksi lebih adem karena agama bukan isu utama. Apalagi, Jokowi dan Prabowo sebelumnya telah membangun komunikasi politik yang dinilai lebih baik dibanding pada Pilpres 2014.
-- (osc)