Menurut Bestari BUMD yang menangani program itu, PD Sarana Jaya dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro), bermain aman dengan membebankan ke anggaran penerimaan dan belanja daerah (APBD).
"Kalau untuk pengembangan usaha, lu ngutang di bank. Aset yang diagunkan bisa banyak, kok. Ngapain lagi beratkan APBD. Mau bebas bunga doang," kata Bestari saat ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (14/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bestari kebijakan Anies-Sandi tersebut membuat DPRD DKI sempat tidak mengucurkan dana untuk BUMD PT PAM Jaya. Padahal saat itu mereka benar-benar membutuhkan dana karena baru 45 persen wilayah DKI tersambung pipa air.
Sebelumnya, PT Jakpro dan PD Sarana Jaya meminta tambahan dana sekitar Rp1 triliun. PT Jakpro menganggarkan Rp531 miliar untuk dua lokasi pembangunan rumah DP nol rupiah. Lalu PD Sarana Jaya menganggarkan Rp483,9 miliar.
Lihat juga:Anies Baswedan Naikkan Tarif Rumah Susun |
PT Jakpro menganggarkan Rp531 miliar untuk dua lokasi pembangunan rumah DP nol rupiah yang terintegrasi dengan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD). Lalu PD Sarana Jaya menganggarkan Rp483,9 miliar.
Kawasan pertama terletak di Jalan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Jakpro berencana memadukan hunian dengan stasiun kereta cepat ringan atau light rapid transit (LRT).
Jakpro membuat dua skema di lokasi itu. Skema pertama, mereka akan membangun tiga menara dengan kapasitas 5.700 unit.
Lalu pada skema kedua, hanya akan ada 4.900 unit yang ditujukan untuk MBR dan masyarakat umum dengan total anggaran yang diminta Rp265 miliar. (wis/sur)