Sebelumnya, dalam acara Indonesia Lawyer Club di TVOne, Selasa (14/8) malam, Mahfud mengaku tersinggung dengan pernyataan Ketua PPP pascadeklarasi Jokowi-Ma'ruf yang menyatakan tak ada yang menyuruhnya membuat seragam untuk deklarasi cawapres.
Romi menceritakan dirinya memang menghubungi Mahfud MD sejak dua minggu lalu dan bercerita mengenai bursa pemilihan wakil presiden Koalisi Indonesia Kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ada beberapa skenario dan semua skenario itu diujisahihkan oleh presiden kepada pimpinan parpol. Hampir dua tiga hari sekali menuju pengambilan keputusan itu dan Pak Mahfud adalah di antara skenario itu," cerita Romi.
Ia menjelaskan PPP bersama Majelis Tinggi partai menyiapkan dua skenario sebagai penantang Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang saat itu disodorkan nama Agus Harimurti Yudhoyono dan Salim Segaf Al-Jufri.
Mahfud MD gagal menjadi cawapres Jokowi di detik akhir. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
"Kami mengapresiasi Pak Mahfud karena memang usia beliau yang masih cukup produktif. Itu yang saya sampaikan ke beliau dan tidak lebih," ucapnya.
Romi menceritakan komunikasinya bersama Mahfud terus terjalin hingga sehari sebelum pengumuman resmi oleh petahana Jokowi. Ia mengakui Mahfud sempat menghubunginya di detik-detik sebelum pengumuman.
"Pukul 16.54 WIB di detik-detik rapat pengambilan keputusan sore di Pelataran Restoran, Pak Mahfud memang ngebel saya tetapi saya tidak mungkin mengangkat telepon karena sedang di tengah rapat," tutur Romi.
"Jadi saya juga tidak tahu, jujur saja, siapa yang mengarahkan Pak Mahfud untuk datang sore itu di restoran. Saya juga tidak tahu siapa yang memerintahkan beliau mengukur baju," katanya.
"Politik itu berubah setiap saat. Sejak awal belum ada keputusan final cawapres dan saya mendapatkan arahan presiden untuk menjelaskan skenario cawapres itu tidak tunggal," ujar Romi. (wis/gil)
Mahfud MD gagal menjadi cawapres Jokowi di detik akhir. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)