Dedek menyatakan bahwa pernyataan itu justru menyesatkan dan tak dibangun berdasarkan data yang valid.
"Saya pikir Gerindra sudah terlalu terbiasa mengumbar kesesatan [soal kondisi ekonomi], mereka tidak memahami bahwa demokrasi yang maju dan modern di mana argumen politik dibangun berbasis data," kata Dedek saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Kamis (16/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka tak mengejutkan jika angka kemiskinan turun dua juta lebih pada masa pemerintahan pak Jokowi dan mencapai 1 digit pada kuartal pertama sebesar 9.8 persen," ujarnya.
Dedek mengatakan bahwa Jokowi berkomitmen untuk terus menekan angka kemiskinan di Indonesia.
"Jadi program-program itu mampu menurunkan angka kemiskinan menjadi satu digit dalam sejarah sejak republik ini berdiri," ujarnya.
Atas dasar argumen itu, politisi dari Partai Solidaritas Indonesia ini mengimbau agar Gerindra lebih jujur dalam melihat data mengenai keadaan ekonomi Indonesia saat ini ketimbang menggunakan asumsi yang menyesatkan masyarakat.
Ia juga menyarankan agar Gerindra berani beradu gagasan menggunakan data untuk mengedukasi masyarakat, ketimbang menggunakan buku-buku fiksi dalam menyampaikan pendapatnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Gerindra Ferry Juliantono mengkritik keras klaim Jokowi soal menurunnya angka kemiskinan dalam tiga tahun terakhir.
Menurut Ferry, klaim Jokowi tidak sesuai dengan keadaan masyarakat di lapisan bawah yang justru makin terperangkap dalam lingkaran kemiskinan.
"Rezim tidak tahu malu namanya," ucap Ferry saat dihubungi CNNIndonesia.com. (wis/gil)