Surat itu tertanggal 20 Agustus 2018 bernomor 977/6131/SJ dan ditujukan kepada Gubernur KDH (kepala daerah) Provinsi.
Dalam surat tersebut tertulis permintaan kepada seluruh pemerintah daerah untuk menyalurkan bantuan keuangan kepada Pemprov NTB yang saat ini tengah menghadapi krisis akibat rangkaian gempa bumi yang mengguncang Lombok dan sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fahri pun menyertai kicau itu dengan catatan bahwa tiap daerah memiliki Silpa yang berbeda-beda. Dengan demikian, kata dia, jumlah nominal bantuan tidak optimal.
Gempa lombok memicu retakan aspal. (Bayu Wiguna/via REUTERS) |
Poin keempat dalam surat Kemendagri itu memang menyatakan bahwa penyediaan anggaran antara lain untuk pemberian bantuan kepada daerah lain dalam rangka penanggulangan bencana alam dapat memanfaatkan saldo anggaran yang tersedia dalam Sisa Lebih Perhitungan (Silpa) APBD tahun anggaran sebelumnya.
"Bagi saya, ini nampaknya pemerintah pusat mau lepas tangan: karena surat itu belum tentu mendapat sambutan dari Pemda lain karena kondisi keuangan Pemda juga tidak merata bahkan tidak mampu. Selama ini pusat sudah terlalu membebani daerah dengan alokasi-alokasi anggaran operasional," tutur Fahri.
[Gambas:Twitter]
Fahri mengatakan jika benar ada upaya seperti itu dari Kemendagri, maka mengisyaratkan bahwa keuangan pusat sudah cukup tertekan.
"Sehingga lagi-lagi harus "meminta ke daerah". Padahal anggaran daerah tidak leluasa karena alokasinya yang relatif kaku, baik DAU, DAK atau Dana Bagi Hasil. Inikah alasan sebenarnya?," Fahri bertanya dalam kicaunya.
Terpisah, Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Bahtiar Baharuddin enggan menjelaskan secara rinci perihal surat tersebut. Menurutnya, ada yang bermain sehingga surat edaran tersebut tersebar di media sosial.
"Ada pemain yang mengedarkan surat itu. Kami akan mengusutnya," kata Bahtiar.
(sur)
Gempa lombok memicu retakan aspal. (Bayu Wiguna/via REUTERS)