Partai berlambang pohon beringin itu terakhir menggelar Munaslub pada pertengahan Desember 2017, saat Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto terpilih aklamasi sebagai Ketua Umum menggantikan Setya Novanto.
"Yang pasti tadi memang ada yang mungkin saya terima Rp2 miliar itu sebagian memang saya gunakan untuk munaslub," kata Eni usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politikus Partai Golkar itu mengatakan hari ini diperiksa sebagai saksi untuk mantan Menteri Sosial Idrus Marham, yang juga tersangka dalam kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1. Eni mengaku sudah mengenal lama Idrus, yakni sejak berada di KNPI hingga Golkar.
Uang itu akan diberikan bila Idrus berhasil membantu Kotjo mendapat proyek yang dibiayai negara senilai US$900 juta tersebut.
"Enggak-enggak. Kalau itu enggak sampai ke sana, saya sampaikan juga di sini," kata Eni.
Apa yang disampaikan Eni hari ini juga sudah disampaikan mantan Ketua DPR Setya Novanto. Dia mengaku mendengar adanya aliran uang ke Munaslub Golkar yang terakhir. Namun, mantan Ketua Umum Golkar itu tak mengetahui persis total uang yang mengalir ke Munaslub Golkar.
"Ya saya dengar begitu," kata Setnov usai diperiksa.
Ketum Golkar Airlangga Hartarto. (CNN Indonesia/Andry Novelino). |
Di tempat terpisah, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto membantah adanya aliran uang Rp2 miliar dari Eni yang masuk ke dalam Munaslub Golkar 2017.
"Tidak ada (aliran dana). Tidak ada," kata Airlangga di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (27/8).
"Dari hasil informasi dan pernyataan ketua OC (Organizing Committee) Pak Agus Gumiwang mengatakan tidak ada dan ketua panitia penyelenggara tidak ada, Bendahara Golkar tidak ada," katanya.
Meski demikian, Airlangga mengaku mengenal dan pernah bertemu Kotjo. Hubungan dengan Kotjo, kata dia, karena sesama pengurus asosiasi emiten.
"Saya ini pengurus asosiasi emiten dan Pak Yono Sukotji kan salah satu pemegang saham. Jadi kalau ketemu biasa aja," ujarnya. (osc/sur)
Ketum Golkar Airlangga Hartarto. (CNN Indonesia/Andry Novelino).