Hal ini setidaknya tecermin dalam survei terbaru lembaga Alvara Research Center yang menunjukkan Jokowi-Ma'ruf Amin memiliki elektabilitas 53,6 persen dan Prabowo-Sandiaga Uno 35,2 persen.
Perolehan itu diprediksi berasal dari pendukung loyal yang telah memastikan pilihannya kepada masing-masing pasangan calon. Survei dengan jumlah responden 1.500 orang, margin of error 2,53 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen ini juga mencatat 11,2 persen responden belum menentukan pilihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan Jokowi-JK tersebut tak lepas dari keberhasilan menggaet swing voters lantaran sebelum Pilpres 2014, sejumlah lembaga survei memprediksi massa mengambang ada di kisaran 40 persen.
Hasanuddin menyebut soal potensi peralihan dukungan di kubu pendukung Jokowi lantaran secara soliditas, kelompok ini lebih lemah dari para pendukung Prabowo.
Alvara tak menanyakan lebih lanjut alasan kemungkinan perpindahan dukungan dari pendukung Jokowi, namun peneliti Alvara Hasanudin Ali meyakini kondisi ekonomi sangat mempengaruhi para pemilih tersebut.
"Tetapi ada peluang dari sisi soliditas pemilih, dimana 40 persen itu pendukung Jokowi-Ma'ruf masih berpotensi pindah ke Prabowo," ujar dia menambahkan.
Sementara itu pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Mada Sukmajati memprediksi swing voters baru akan menentukan pilihan pada menit-menit akhir.
"Bisa jadi kalau keadaan seperti ini terus, tidak ada strategi yang jitu dari masing-masing timses, swing voters akan terus bertambah dan kemungkinan besar mereka akan menentukan pilihannya last minute," kata Mada saat dihubungi, Selasa (28/8).
Strategi pemenangan itu termasuk pilihan isu. Mada berpendapat isu politik identitas tidak dapat membantu swing voters menentukan pilihan. Sebab, kata Mada, swing voters merupakan para pemilih yang apolitis. Selain itu, mereka juga merupakan pendukung kedua bakal calon presiden yang dikecewakan atas pilihan bakal calon wakil presiden masing-masing.
"Apakah isu yang akan mereka gunakan apakah kembali politik identitas atau mereka mencoba keluar dari isu itu dan mengambil isu yang programatik. Saya kira akan ditentukan itu," kata dia.
"Kelompok pemilih ragu-ragu banyak di kelas menengah," ujarnya.
Sedangkan dari sisi usia, Mada menerangkan kelompok pemilih muda atau pemula akan mendominasi swing voters. Untuk kelompok usia tua atau setengah tua, menurutnya, kecenderungan pilihan sudah dapat diprediksi.
"Kalau kalangan muda mereka lebih rasional dan mereka banyak belajar dari pemilu-pemilu sebelumnya," kata dia. (wis/gil)