Susanto mengatakan itu saat berkunjung ke Probolinggo bersama Ketua Divisi Pengaduan KPAI Susianah Affandy. Di sana, Susanto dan Susianah berkoordinasi dengan Wali Kota Probolinggo Rukmini untuk menelaah lebih lanjut terkait peristiwa pawai budaya anak TK yang bercadar dan membawa replika senjata.
Dalam pertemuan itu hadir pula sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Polres Probolinggo Kota dan Kodim 0820 Probolinggo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KPAI juga mendorong Pemerintah Kota terus mengawal satuan pendidikan agar meningkatkan kegiatan yang berwawasan karakter dan ramah anak. Selain itu perlu mengembangkan model-model kegiatan yang inovatif, berwawasan kebangsaan dan sesuai konteks lokal Indonesia.
"Sebab simbol atau atribut akan bisa mendatangkan persepsi atau arti berbeda bagi orang lain. Semua sudah klir atas persoalan kontroversi atribut yang digunakan saat pawai budaya oleh salah satu TK di Kota Probolinggo," ungkapnya.
Pria asal Pacitan itu juga mendorong terbentuknya Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Probolinggo.
"Kami mendorong terbentuknya KPAD Kota Probolinggo. Orientasinya mampu mengantisipasi hal serupa terjadi sehingga selesai di tatanan lingkungan kota setempat," kata doktor lulusan Universitas Negeri Jakarta itu.
"Tentunya kami support saran KPAI tersebut. Sehingga persoalan seperti kemarin bisa diantisipasi sedini mungkin tak sampai meluas. Tentu untuk itu, perlu regulasi lagi selain Perwali, sedangkan Perda masih belum. Sudah kami masukkan pada program legislasi daerah (Prolegda)," katanya.
Sebelumnya, publik heboh dengan pawai bercadar menggunakan replika senjata laras panjang oleh TK Kartika V-69, pada 18 Agustus lalu.
Sejumlah pihak pun kemudian melakukan klarifikasi terkait penggalan foto dan video yang tersebar, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat berkunjung yang ke Kota Probolinggo pada 19 Agustus 2018. (dik/kid)