Pengamat politik Universitas Indonesia Arbi Sanit memandang pola pemikiran politikus seperti itu lebih mengutamakan kepentingan pribadi.
Ia menganggap fenomena ini terjadi karena ada kekacauan ideologi di tubuh partai. Partai hanya digunakan sebagai batu loncatan bagi para politikus untuk meraih kekuasaan semata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arbi menyebut politikus yang mudah berpindah haluan dari satu partai ke partai lain adalah penjilat.
"Orang yang pindah suara itu adalah para penjilat pimpinan. Kalau ideologi politiknya benar enggak mungkin meninggalkan partainya," kata Arbi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (30/8).
Arbi melihat sikap konservatif masih dipertahankan para petinggi partai. Mereka memilih kader untuk mengisi sebuah jabatan hanya berdasarkan motif suka atau tidak suka.
"Memilih orang karena disenangi, orang yang tidak disenangi digencet maka keluar kabur," kata Arbi.
Deddy Mizwar (tengah) bersama sejumlah kader partainya, Demokrat. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon) |
"Dalam politik, loyalitas dan kedisiplinan penting. Kalau tidak, ini akan merusak masa depan partai dan pribadinya karena tidak loyal dan disiplin berpartai," kata Pangi.
Ia menyebut politikus 'kutu loncat' ini membahayakan bagi masa depan partai. Parpol menjadi tumbal politik karena regenerasi kader terancam bakal tergerus.
"Mereka harus menjaga etika, menjaga akhlak dan sikapnya karena berubahnya formasi di partai. Ketika ke kubu opisisi ya oposisi, kalau koalisi ya kubu koalisi," kata Pangi.
Politikus Partai Demokrat Deddy Mizwar saat ini bergabung di tim pemenangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Sementara Demokrat telah menyatakan dukungan kepada capres Prabowo Subianto pada pilpres 2019.
Ferry Mursyidan Baldan (tengah) saat menjadi menteri ATR Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari) |
Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arif sempat menuding PDI Perjuangan sebagai partai koalisi Jokowi yang kerap membajak kader.
"Saya tidak mengerti kenapa Ibu Megawati merestui Hasto yang rajin membajak kader Demokrat untuk gabung ke tim Jokowi. Apakah PDIP sudah sangat miskin kader berkualitas?" cuit Andi melalui akun pribadi Twitter, Kamis (30/8).
Deddy Mizwar (tengah) bersama sejumlah kader partainya, Demokrat. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Ferry Mursyidan Baldan (tengah) saat menjadi menteri ATR Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)