Saran pertama, menurut Heri pemerintah perlu memotong anggaran belanja secara signifikan dan menurunkan defisit anggaran agar secara signifikan menurunkan prospek defisit current account dan memberikan imunitas pada ekonomi.
Selanjutnya, ia mengingatkan bahwa defisit fiskal pernah mencapai level tertinggi pada kwartal III tahun 2015 yakni sebesar 6 persen dan kwartal I tahun 2016 sebesar 4,3 persen. Namun, sektor privat masih surplus pada saat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu tiga kebijakan yang disarankan kepada pemerintah terkait nilai tukar rupiah yang jatuh ke level nyaris Rp15.000 terhadap dolar, terendah sejak krisis 1998," kata Heri kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/9).
Kemudian, nilai tukar rupiah telah turun sebesar 8,7 persen sejak awal 2018, padahal Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga sebesar 125 basis poin sejak Mei.
Dia juga berpendapat, penguatan dolar AS menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan Indonesia membayar utang dalam dolar AS.
"Kerawanan rupiah dipicu oleh melemahnya ekspor dan tingginya pertumbuhan utang untuk membiayai defisit," ujarnya.
Selain itu, liarnya pergerakan nilai tukar rupiah disebabkan oleh beberapa faktor subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin tinggi, membanjirnya impor, pembiayaan infrastruktur dalam mata uang asing, dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dibiayai utang. (wis/gil)