Atas dasar itu, ia mengaku, KPK belum dapat memastikan soal keterlibatan Ketum Golkar Airlangga Hartarto dalam kasus tersebut. Penyidik harus mengantongi setidaknya dua alat bukti permulaan yang cukup untuk menentukan keterlibatan seseorang dalam kasus ini.
"Kan kita harus buktikan dulu bahwa itu hasil dari korupsi. Nah begitu, digunakan ke mana (uang suap ini)," ujar Saut di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (5/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum ada temuan penyidik KPK yang mengarah pada bukti aliran suap untuk kepentingan Munaslub Golkar, Saut mengklaim, tidak akan menduga lebih jauh keterlibatan Airlangga. Namun aliran dana itu tetap dipelajari lebih dalam.
Namun, ia kembali menyatakan belum dapat memastikan apakah Golkar selaku institusi partai bisa dikenakan pidana akibat korupsi PLTU Riau-1. Sebab, ia menyebut institusi partai berbeda dengan perusahaan yang berorientasi pada keuntungan.
"Dari definisi kan korporasi itu organisasi, sekumpulan orang yang memiliki maksud, niat, dan tujuan yang sama. Nanti kami lihat pada norma-norma yang harus diperdebatkan," ujar Saut.
Sebelumnya, Eni mengaku sebagian uang suap Rp2 miliar yang diterima dari Kotjo digunakan untuk keperluan Munaslub Golkar. Namun, Eni tak menyebut secara pasti jumlah uang suap yang masuk ke kegiatan partai berlambang pohon beringin itu.
"Yang pasti tadi memang ada yang mungkin saya terima Rp2 miliar itu sebagian memang saya inikan, gunakan untuk munaslub," kata Eni usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/8).
Eni juga mengaku diperintahkan oleh ketua umum Golkar untuk mengawal proyek pembangkit listrik milik PT PLN. Namun, Eni juga tak menyebut siapa ketua umum Golkar yang memerintahkan untuk mengawal proyek tersebut. Ia mengaku hanya menjalankan tugas partai.
Penyerahan uang kepada Eni tersebut dilakukan secara bertahap dengan rincian Rp4 miliar sekitar November-Desember 2017 dan Rp2,25 miliar pada Maret-Juni 2018.
Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo menggarap proyek senilai US$900juta. Namun, proyek tersebut dihentikan sementara setelah mencuatnya kasus dugaan suap ini.
Ketua DPP Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini Ace Hasan Syadzily. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono). |
Ketua DPP Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini Ace Hasan Syadzily sebelumnya sudah membantah pernyataan itu.
Ace mengatakan sudah mengkonfirmasi langsung kepada Ketua Panitia Penyelenggara (OC) Munaslub Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Ketua Panitia Pengarah (SC) Ibnu Munzir.
"Keduanya tidak pernah mendapatkan uang sepeserpun dari Eni M. Saragih untuk pembiayaan Munaslub 2017 tersebut," kata Ace kepada CNNIndonesia.com, Jumat (31/8).
"Untuk penyediaan katering atau makanan peserta itu ditangani oleh Panitia OC bukan SC. Tugas SC itu mengarahkan dan menyiapkan materi Sidang, bukan menyiapkan katering dan sewa hotel," kata dia.
Ace menegaskan Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto menekankan kampanye pemerintahan bersih. Karena itu setiap sumber pendapatan Golkar diakui Ace bisa dipertanggungjawabkan.
"Dan masuk ke rekening resmi Partai Golkar. Selain itu, Pak Airlangga selalu meminta kepada seluruh kader untuk tidak melakukan tindakan tidak terpuji termasuk korupsi," ujar dia. (osc/gil)
Ketua DPP Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini Ace Hasan Syadzily. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).