Hal itu disampaikan oleh Ketua Presidium Alumni (PA) 212 Slamet Maarif saat menghadiri sebuah diskusi di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (13/9).
"Kawan HTI juga pendapatnya, argumentasinya, akan bisa disalurkan di Ijtimak Ulama II," terang Slamet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya Insya Allah saya diundang," terang Ismail.
Menurut dia Ijtimak Ulama II bakal secara konkret meresmikan dukungan ulama kepada pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Terkait arah dukungan HTI di Pilpres 2019, Ismail mengatakan pihaknya tidak akan mendukung pemimpin yang menzalimi ulama, membubarkan organisasi dakwah dan ingkar janji.
"Pemimpin yang banyak ingkar janji tidak boleh dipilih lagi, pemimpin yang mengkriminalisasi ulama, pemimpin yang justru membubarkan kelompok dakwah," ujarnya.
Kontrak Politik Ulama dengan Paslon
Slamet mengatakan dalam Ijtimak Ulama II, para ulama akan membuat kontrak politik dengan pasangan calon yang didukungnya di Pilpres 2019.
Kontrak politik itu, kata Slamet, berisi komitmen pasangan calon agar memperjuangkan komitmen dan aspirasi umat. Kendati begitu Slamet tidak merinci isi dari kontrak atau pakta integritas yang akan ditandatangani ulama dan pasangan calon.
"Kan ada komitmen politik seharusnya bersedia terpilih harus memperjuangkan komitmen umat kan. Saya pikir itu sesuatu yg lumrah," ujar Ismail.
Sebelumnya, Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Muhammad Martak mengatakan Ijtimak Ulama jilid II ini digelar dengan semangat pergantian presiden terkait Pilpres 2019.
Yusuf menerangkan tujuan Ijtimak Ulama yang digelar kedua kalinya ini hanya untuk memastikan peran ulama dalam dukungan untuk pasangan bakal calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, serta komitmen keduanya atas kesepakatan dari hasil Ijtima. (dal/sur)