"Tahapan yang menurut kami penting adalah mengubah model debat kandidat," ucap Hinca di Jalan Daksa I No 10, Jakarta Selatan, Kamis malam (13/9).
Hinca menilai model debat kandidat tidak masalah ketika disiarkan oleh televisi. Namun, pola debat yang selama ini diterapkan lebih mirip lomba cerdas cermat. Menurutnya, konsep demikian tidak cocok diterapkan dalam rangka menjaring pemimpin nasional yang baru.
"Kami akan minta KPU untuk membuat itu dihapus saja debat ala cerdas cermat, tapi menyampaikan pikiran, gagasan besar untuk saat ini," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, masyarakat juga akan memahami secara komprehensif pandangan dan misi yang akan ditempuh masing-masing kandidat. Tidak seperti selama ini karena debat hanya diberikan waktu yang sedikit lalu dibalas dengan pertanyaan atau tanggapan dari kandidat yang lain.
Lihat juga:Prabowo Sebut Isu Khilafah Propaganda Licik |
"Tapi kalau cuma 3 menit kemudian masing-masing bertanya. Yaudah, kayak cerdas cermat. Buat kita buang cerdas cermat," Ujar Hinca.
Di tempat yang sama, Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto meminta KPU melakukan uji publik terhadap Peraturan KPU tentsng debat sebelum ditetapkan. Menurutnya, hal itu perlu agar semua pihak turut berperan dalam penentuan komsep debat.
"Sehingga masukan ke prinsip dan paripurna. Baik dari partai yg ada, sampai pemerhati demokrasi dan akademisi itu bisa dipadukan masukannya," ujar Yandri.
Senada dengan Hinca, Yandri menilai alangkah baiknya jika masing-masing kandidat diberi waktu yang cukup panjang untuk memaparkan pandangannya. Menurutnya, hal ini juga berpengaruh dalam membangun demokrasi yang lebih baik, yakni agar masyarakat benar -benar memahami pandangan calon yang berkontestasi.
"Saya kira ini bagian dari evaluasi kita melihat pengalaman Yang ada. Baik di Pilkada dan pilpres," ujar Yandri. (sur)