Hal itu berdasarkan pantauan Antara Kalsel di sejumlah kawasan di Banjarmasin yang sejak Senin dini hari diselimuti kabut dengan ketebalan bervariasi.
Beberapa warga Pemurus Dalam, Kelurahan Pemurus, Kecamatan Banjarmasin Selatan mengaku mata mereka terasa perih karena pengaruh kabut asap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Udara pun terasa berbau karena pengaruh Karhutla. Banyak penduduk memakai masker guna menghindari atau setidaknya mengurangi menghirup udara yang tercemar itu.
Lihat juga:Karhutla di Palangka Raya Kian Meluas |
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan meminta tambahan helikopter water bombing (pengebom air) untuk mengatasi Karhutla setempat.
"Kami meminta tambahan heli ke BNPB dan sudah diproses pergeseran dua heli dari Kalteng dan Kalbar memperkuat pengeboman di Kalsel," kata Kepala BPBD Kalsel Wahyudin di Banjarbaru.
Ia mengatakan permintaan heli tambahan karena satu unit heli yang didatangkan BNPB sejak pertengahan Agustus lalu cukup kewalahan mengatasi titik karhutla yang tidak mengalami penurunan.
"Setiap hari selalu ada lahan terbakar baik lahan kosong maupun lahan gambut sehingga setiap hari pula satu unit heli diturunkan untuk melakukan penyiraman lahan yang terbakar," ujar Wahyudin.
"Rekapitulasi luasan lahan terbakar dari data hari Jumat (14/9) mencapai 2.005 hektare yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota se-Kalsel sebanyak 13 kabupaten dan kota," kata Wahyudon.
Ia menambahkan luasan lahan terbakar yang mencapai dua ribu hektare lebih itu terjadi sejak tanggal 1 Januari hingga 14 September 2018 dengan jumlah 552 kali kebakaran hutan dan lahan.
Kemudian, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 170,6 hektare, Hulu Sungai Utara 96 hektare, Kotabaru 47,9 hektare, Hulu Sungai Tengah 32,3 hektare dan Tanah Bumbu seluas 39 hektare.
Selanjutnya, Kabupaten Balangan 45 hektare, Tabalong 28,5 hektare, Barito Kuala seluas 12,3 hektare dan Kota Banjarmasin 2 hektare. (wis/sur)