Hal ini dikatakan Ali dalam acara CNN Indonesia TV, Senin (17/9) malam. Dalam acara itu, Ali terlibat diskusi dengan Anggota Dewan Pembina GNPF Ulama, Haikal Hassan terkait dengan Ijtima Ulama II.
"Ajukan suratnya dong. Jadi kalau nanti Pak ustaz Haikal dan teman-teman membuat suratnya, wallahi wa billahi nanti saya fasilitasi. Tak ada yang susah, ini kan presiden kita," ujar Ali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin ngomong sama Pak Jokowi, susah banget," ujar Haikal.
Ali kemudian menambahkan, bahwa ulama merupakan pewaris para nabi. Ulama merupakan tempat bertanya semua orang. Karenanya, GNPF Ulama yang sudah membuat Ijtima Ulama sebanyak dua kali, seharusnya bisa menjadi tempat bertanya bagi semua orang.
Pernyataan itu kemudian ditimpali Haikal dengan prinsip orang Betawi, bahwa tidak boleh tempayan menghampiri gayung, sebaliknya gayunglah yang mesti menghampiri tempayan.
"Artinya ulama itu ibaratnya tempayan, tempatnya orang-orang pada datang. Kalau ulama ngemis-ngemis sama pemerintah, itu artinya tempayan nyamperin gayung, nggak boleh," ucap Haikal.
"Itu bukan istana kerajaan, itu istana rakyat Indonesia," kata dia.
Ali membantah Jokowi berjarak dengan ulama. Jokowi justru semakin dekat dengan ulama saat ini.
Hal tersebut diakui Haikal. Haikal mengakui Jokowi semakin dekat dengan ulama setelah menggate Ma'ruf Amin sebagai bakal cawapres untuk bertarung di Pilpres 2019. Namun Haikal menggarisbawahi, bahwa harusnya Jokowi tak hanya mendekati Ma'ruf saja, tetapi juga Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.
"Jangan cuma Ma'ruf Amin dong yang didekati, tapi pulangkan Rizieq Shihab," kata Haikal.
"Tamam (mantap), tamam," ucap Ali seraya menyebut bahwa memulangkan Rizieq merupakan kewajiban negara dengan semua ketentuan hukum dan perundang-undangan yang ada. (osc/sur)