"Sebagai orang pesantren saya ingin membawa aspirasi saya, saya ingin pesantren punya posisi kuat, ada yang minta menteri urusan pesantren. Nah kita Dirjen urusan pesantren dulu lah," kata Ma'ruf saat berbincang dengan sejumlah ulama Aceh tergabung dalam Forum Komunikasi Ulama dan Tokoh Masyarakat Aceh (Forkuma), di Hotel Hermes, Banda Aceh, Rabu (19/9).
Selain itu, Ma'ruf menginginkan pembentukan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pesantren di bawah Kementerian Agama. Menurut dia, dari data Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama pada 2016 menunjukan ada 28,194 pesantren tersebar di wilayah kota maupun pedesaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Ma'ruf juga mengusulkan agar nantinya pemerintah dapat meningkatkan alokasi dana APBN maupun APBD khusus untuk peningkatan dan pemberdayaan pesantren. Dia mengatakan anggaran pemerintah nantinya harus berpihak pada pemberdayaan bagi pondok pesantren dan para santrinya.
Ma'ruf juga dikenal memiliki gaya berbusana kerap mengenakan sarung dipadu jas. Sosok Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga tidak lupa menggunakan songkok dan melilitkan kain di bagian lehernya.
Jika terpilih dalam pemilihan presiden 2019, Ma'ruf berjanji akan tetap mempertahankan gaya berpakaiannya.
"Pakaian saya tetap pakai sarung, nanti ada wakil presiden bersarung. Mudah-mudahan saya boleh tetap pakai sarung," kata Ma'ruf
Kalau menang, Ma'ruf bergurau akan menjadi satu-satunya pemimpin negara di dunia yang bersarung saat melaksanakan tugas negara.
"Jadi ini akan satu-satunya di dunia, mudah-mudahan tak ada peraturan yang melarang," kata dia.
Ma'ruf bercerita pernah berkonsultasi dengan berbagai pihak, termasuk ke Joko Widodo dan PDI Perjuangan soal gaya berpakaiannya. Ia mengklaim Jokowi tak keberatan jika dia mempertahankan gaya berpakaiannya.
"Kan saya tanya ke PDIP, gimana pakaian saya apakah saya harus berubah? Kata mereka, kalau kiai berubah nanti yang disalahin PDIP," lanjut dia. (ayp/rzr)